Menjadi Jembatan Pembinaan Pemerintah, Loka Kreasi bukan sekedar Reseller
- calendar_month Minggu, 6 Jul 2025

Ia mengakui bahwa dalam portofolio bisnis, mungkin ada produk IKM yang pada awalnya “kurang laku” atau tidak begitu diterima pasar.
Namun, agregator seperti Loka Kreasi bersedia mengesampingkan keuntungan sesaat dengan beberapa aksi seperti mengecualikan mengambil keuntungan untuk produk yang sangat murah, mendisplay produk di tempat yang lebih tepat, menarasikan setiap produk dengan bahasa yang promotif semua itu agar si perajin bisa tetap bertahan hidup (survive) dan terus berkarya.
“Perhatian pertama Loka Kreasi adalah bagaimana seluruh pelaku usaha ini jalan dulu usahanya baru mikir marginnya. Itu kerennya,” jelas Roy.
Dalam kemitraan ini, pemerintah pun tidak lepas tangan, Roy menegaskan bahwa posisi pemerintah adalah mitra yang harus terus memberikan dukungan.
Upaya dukungan tersebut biasanya diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti fasilitasi pameran, kepariwisataan hingga penyediaan ruang-ruang publik untuk kegiatan co-branding dan promosi hingga fasilitasi sertifikasi dan ruang bagi pengadaan.
Dalam rencana membangun sebuah Ekosistem UKM, konsep Pentahelix nampaknya lebih tepat untuk digunakan karena dasarnya Gotong Royong. Visi besar Roy sepertinya tidak berhenti pada kolaborasi bilateral antara pemerintah dan agregator.
Ia memimpikan terbangunnya sebuah ekosistem yang selaras seperti konsep Pentahelix, dimana lima pilar bisa ikut berkontribusi secara sinergis.
“Konsep Pentahelix dengan Lima Pilar atau Lima Komponen ini bisa membantu mempercepat pembangunan ekosistem UKM sebagai rantai kerja yang efektif demi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” jelasnya.

Kelima pilar tersebut adalah:
1. Pemerintah (Government): Sebagai regulator, fasilitator, dan penyedia kebijakan yang suportif.
2. Masyarakat melalui komunitas/LSM (Community/NGO): Mendorong pengembangan produk berbasis alam, sosial, dan berkelanjutan.
3. Swasta; Dunia Usaha/Hotel/ Pelaku Usaha/Bisnisman: Termasuk para IKM sebagai produsen dan agregator sebagai jembatan pasar.
4. Akademisi (Academia): Berperan dalam riset dan pengembangan produk, inovasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
5. Media Massa (Media): Sebagai motor amplifikasi dan narasi, yang membangun citra positif dan menyebarkan informasi tentang produk-produk lokal ke khalayak luas.
“Pemerintah sudah ‘match’ dengan Loka Kreasi terus UKM sudah ‘kawin’ dengan Loka Kreasi, nah tinggal stakeholder lain yang support nih” ujarnya.
Ekosistem ini dibentuk harusnya jangan cuma untuk mencari keuntungan yang lebih besar satu sama lain, tapi bagaimana dengan sejajar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dulu. Bersekutu, bergabung bersama-sama untuk tujuan itu.”ucapnya dengan semangat.
Masa Depan IKM Sanggau dalam konteks pemasaran tetap membutuhkan dua pendekatan yaitu digital dan konvensional sebab pada akhirnya konstruksi kolaborasi ini adalah bagaimana menciptakan sistem kerjasama yang inklusif dan hybrid dengan tujuan peningkatan pendapatan produk UKM melalui pemasaran terpadu baik langsung (direct selling) seperti UMKM Corner atau sentra oleh-oleh dan teknik pemasaran digital yang rencananya juga akan dioperating oleh aggregator.
Apabila ekosistem ini bisa berjalan, harapan ke depan bicaranya scopenya udah Nasional jadi bisa lebih holistik dan saling support sehingga nanti otomatis pendapatan daerah bisa naik dan pemerintah mendapatkan posisinya sebagai lembaga yang memiliki citra supremasi yang berkeadilan.” -Ryan-




- Penulis: Ryan
- Editor: Sonny
