Cahaya, Pouch Etnik Keren Oleh oleh Pontianak
- calendar_month Jumat, 25 Jul 2025

PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Bagi pelancong dan wisatawan memilih buah tangan atau oleh-oleh adalah suatu pilihan yang sering kali menjadi kewajiban, tak jarang buah tangan itu harus khas, berkesan, ringan di bawa, awet dan tentu saja, ramah di kantong.
Inilah kisah inspirasi untuk para pengusaha UMKM atau yang ingin terjun ke dunia UMKM, Ibu Catur Rinna Puspitasari atau yang akrab dipanggil Ibu Rinna adalah seorang pengusaha UMKM yang memproduksi “Pouch Etnik” merek “Cahaya”,yang mengubah pengalaman pribadinya menjadi sebuah produk yang kini menjadi primadona di berbagai etalase oleh-oleh ternama.

Kisah ini berawal dari sebuah niat saat hendak pulang ke kampung halamannya di pulau Jawa, sebagai seorang perantau di Pontianak, membawa oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat adalah sebuah keharusan yang menyenangkan sekaligus memutar otak.
“Saya sering bolak-balik pulang kampung, rasanya tidak enak kalau tidak membawa sesuatu,” kenang Rinna dalam sebuah perbincangan hangat.
“Saya berpikir, apa ya barang yang khas dari sini, yang berguna, awet, ringan karena kalau naik pesawat bagasi terbatas, dan harganya terjangkau? kalau makanan bisa habis dimakan, tapi barang seperti ini akan terus dipakai.”
Pikiran itu terus berputar dikepalanya hingga akhirnya menemukan sebuah ide, mengapa tidak membuatnya sendiri?
Berbekal kemampuan menjahit yang baru saja ia pelajari sesaat sebelum pandemi melanda, Rinna mulai bereksperimen.

Tangannya mulai menari di atas kain-kain bermotif khas daerah, mengubah lembaran bahan menjadi dompet dan pouch mungil yang fungsional, produk perdana itu ia bawa sebagai oleh-oleh, tak disangka, respons yang diterima luar biasa positif.
“Ternyata teman-teman dan keluarga suka, mereka bilang desainnya bagus, berguna, dan sangat ‘Pontianak’, dari situ, teman-teman sesama perantau di sini mulai memesan.
‘Rin, bikinin ya, nanti aku mau pulang kampung nih’,” tutur Rinna, menirukan antusias kawan-kawannya. Permintaan dari mulut ke mulut itu menjadi pengakuan pertama bahwa idenya memiliki potensi pasar.
Pandemi Covid 19 dan Makna Brand Cahaya
Sekitar tahun 2019 menuju 2020, dunia dilanda pandemi covid 19, keterbatasan aktivitas di luar rumah justru menjadi peluang bagi Rinna untuk lebih serius menekuni hobi barunya.
Waktu luang yang melimpah ia manfaatkan untuk mengasah keterampilan dan memproduksi lebih banyak pouch, menariknya, Rinna mengaku bahwa keahlian menjahitnya terbilang baru.
“Saya belajar menjahit itu belum lama, sebelum pandemi, awalnya iseng saja, ingin bisa bikin baju untuk diri sendiri,” ungkapnya sambil tertawa.
“Ada teman yang memberi tahu ada tempat kursus jahit, saya ikut beberapa bulan, tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya yang akan berkembang justru bukan membuat baju, melainkan kerajinan pouch ini.”

Momen ini menjadi titik pijak lahirnya brand Cahaya Pouch Etnik. Nama “Cahaya” sendiri bukanlah pilihan yang asal-asalan melainkan ada makna didalamnya. Ia diambil dari nama sang buah hati, sebuah nama yang sarat dengan doa dan harapan.
“Filosofinya sederhana saja, saya ingin usaha ini bisa bersinar dan ‘bercahaya’, baik untuk masa depan anak saya, maupun untuk kemajuan bisnis ini sendiri,” jelas Rinna. Harapan itu, selangkah demi selangkah, mulai menunjukkan sinarnya.
Keunggulan Produk: Motif Lokal dan Mengelola Bahan
Keunggulan utama yang menjadi jiwa dari setiap produk Cahaya Pouch Etnik adalah komitmennya pada identitas lokal.
Rinna secara sadar memilih untuk hanya menggunakan kain dengan motif-motif khas Kalimantan Barat, seperti motif Dayak, corak Insang khas Melayu Pontianak, dan batik-batik lokal lainnya.
“Ini adalah tantangan tersendiri,” aku Rinna. “Saya harus benar-benar jeli memilih motif, jangan sampai salah, misalnya menggunakan motif batik Jawa atau bahkan motif dari Kalimantan Tengah yang sekilas mirip tapi sebetulnya berbeda.






- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
