Cahaya, Pouch Etnik Keren Oleh oleh Pontianak
- calendar_month Jumat, 25 Jul 2025

Sebab, orang yang mengerti pasti akan tahu, ini soal menjaga otentisitas karena yang kami jual adalah oleh-oleh khas Pontianak.”
Selain pada motif ada rahasia cerdas di balik model bisnisnya yang memungkinkan produknya dijual dengan harga yang sangat kompetitif.
Rinna menjalin kerjasama strategis dengan pemasok bahan baku, di kawasan pertokoan Nusa Indah, Pontianak. Alih-alih membeli kain dalam gulungan besar yang mahal, ia justru memanfaatkan kain sisa atau perca.
“Produk saya kan kecil-kecil, jadi tidak butuh bahan yang sangat besar, saya sudah berlangganan dengan salah satu toko tersebut dan secara khusus meminta mereka untuk memisahkan sisa-sisa kain yang ukurannya tinggal satu atau dua meter, atau bahkan kurang dari itu.
“Kain-kain ini sudah tidak bisa mereka jual dengan harga normal dan saya bisa mendapatkannya dengan harga kain sisa,” paparnya.
Strategi ini bukan hanya brilian dalam menekan biaya produksi, tetapi juga merupakan praktik bisnis yang berkelanjutan (sustainable) dengan mengurangi limbah tekstil.
Hal ini memungkinkan Cahaya Pouch Etnik untuk menyasar segmen pasar yang lebih luas, yaitu mereka yang mencari oleh-oleh “murah meriah” tanpa mengorbankan kualitas dan estetika.
Untuk menjaga kualitas, setiap pouch dilapisi dengan busa setebal 2 inci di bagian dalamnya. Ini memberikan struktur yang lebih kokoh, tebal, dan melindungi isi di dalamnya, sebuah detail kecil yang menunjukkan keseriusan Rinna dalam menjaga standar produknya.
Produksi pun ia tangani dengan detail. “Saya yang menjahit dan melakukan quality control, ada satu kawan yang membantu untuk bagian menggunting pola dan mengobras, semua di bawah pengawasan langsung,” tambahnya.
Momen berkesan dari Produk Cahaya
Langkah Rinna untuk mengembangkan bisnisnya tidak berhenti pada penjualan personal, ia aktif bergabung dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pontianak dan Rumah BUMN di PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu).
Dari sinilah, jaringan pemasarannya terbuka lebar, ia menerapkan sistem konsinyasi atau titip jual yang terbukti sangat efektif.
Kini, Cahaya Pouch Etnik telah tersebar di titik-titik strategis dimana tempat pencarian oleh-oleh di Kota Pontianak.
Produknya dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh seperti Along di Jalan Gajah Mada, Outlet UMKM Hotel Mercure dan Hotel Borneo, namun penetrasi pasarnya yang paling signifikan adalah di toko oleh-oleh Bandara Internasional Supadio.

“Di bandara, Alhamdulillah sudah ada di tiga tempat, lantai bawah ada di Square M, pas di dekat pintu keberangkatan, lantai atas ada di Pandanwangi 1 dan Pandanwangi 2, rencananya akan mengisi juga di UMKM Corner yang baru di sana,” urai Rinna dengan rinci.
Namun, momen yang paling membekas dan menjadi pembuktian terbesar bagi bisnisnya terjadi saat Kota Pontianak menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional.
Di tengah ribuan produk UMKM lain yang membanjiri bazar tempat acara, Cahaya Pouch Etnik berhasil mencatatkan prestasi gemilang.
“Saat acara MTQ Nasional itu, pouch kami dinobatkan sebagai produk dengan penjualan terbaik atau best seller,” kenang Rinna dengan mata berbinar.
“Mungkin karena semua kafilah dari berbagai provinsi datang, mereka butuh suvenir yang kecil, ringan dan multifungsi”.
Momen ketika nama brand “Cahaya” diumumkan sebagai produk yang terlaris di acara sebesar itu, rasanya menjadi sebuah penghargaan yang luar biasa, itu sangat membekas dan membanggakan.”
Merangkul Kolaborasi dan Menatap Masa Depan
Seiring dengan meningkatnya permintaan, Rinna sadar ia tidak bisa selamanya berjalan sendiri, dalam sebulan, rata-rata ia mampu memproduksi sekitar 500 pieces.
Namun, ketika pesanan besar datang, angka itu bisa melonjak hingga 1.000 pieces atau lebih, fleksibilitas ini teruji ketika sebuah pesanan tak terduga datang dari Malaysia.

“Ada pesanan untuk suvenir acara di Malaysia, jumlahnya ratusan pieces dan harus selesai dalam dua minggu. Tentu saya tidak bisa kerjakan sendiri, akhirnya saya mengajak kawan penjahit lain untuk berkolaborasi dan syukurlah targetnya tercapai,” katanya.
Pengalaman ini membuka matanya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk skala bisnis yang lebih besar. Rinna tidak melihat penjahit lain sebagai kompetitor, melainkan sebagai mitra potensial untuk tumbuh bersama.

Baginya, bisnis ini bukan sekedar tentang keuntungan finansial, ada aspek sosial dan budaya yang ia emban.
“Dengan memperkenalkan batik dan motif Kalimantan Barat, kita turut mempromosikan daerah kita. Yang lebih membahagiakan lagi, usaha ini bisa memberi pekerjaan bagi kawan-kawan atau tetangga sekitar. Jadi ada aspek sosial untuk membantu orang lain,” tegasnya.
Ke depan, Catur Rinna Puspitasari bermimpi untuk bisa berekspansi ke kota-kota lain, tidak hanya sebagai produk oleh-oleh dari Pontianak, tetapi juga sebagai produsen suvenir yang mengadaptasi motif-motif khas dari daerah lain.
“Sudah ada tawaran dari pihak Pandanwangi di bandara. Mereka punya cabang di semua bandara di Indonesia. Mereka bertanya, ‘sanggup tidak mengisi untuk semua cabang?’.
Tentu saya harus optimis dan menjawab, ya mudah-mudahan bisa jika ada kesempatannya,” ujarnya penuh semangat.
Perjalanan Cahaya Pouch Etnik, yang dimulai dari ide iseng seorang ibu rumah tangga yang ingin membawa oleh-oleh fungsional, telah membuktikan bahwa dengan kepekaan melihat peluang, kecerdasan dalam eksekusi, dan kegigihan dalam berkarya, sebuah usaha rumahan pun dapat bersinar terang, menerangi tidak hanya ekonomi keluarga, tetapi juga membawa serta cahaya kebudayaan lokal ke tempat-tempat yang lebih luas.(Ar-S)
Jika anda berminat silahkan follow IG kami:
Instagram : @cahayapouchpontianak







- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
