Sabtu, 23 Mei 2026
light_mode
Beranda » Inspirasi » Cahaya, Pouch Etnik Keren Oleh oleh Pontianak

Cahaya, Pouch Etnik Keren Oleh oleh Pontianak

  • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025

Sebab, orang yang mengerti pasti akan tahu, ini soal menjaga otentisitas karena yang kami jual adalah oleh-oleh khas Pontianak.”

Selain pada motif ada rahasia cerdas di balik model bisnisnya yang memungkinkan produknya dijual dengan harga yang sangat kompetitif.

Rinna menjalin kerjasama strategis dengan pemasok bahan baku, di kawasan pertokoan Nusa Indah, Pontianak. Alih-alih membeli kain dalam gulungan besar yang mahal, ia justru memanfaatkan kain sisa atau perca.

“Produk saya kan kecil-kecil, jadi tidak butuh bahan yang sangat besar, saya sudah berlangganan dengan salah satu toko tersebut dan secara khusus meminta mereka untuk memisahkan sisa-sisa kain yang ukurannya tinggal satu atau dua meter, atau bahkan kurang dari itu.

“Kain-kain ini sudah tidak bisa mereka jual dengan harga normal dan saya bisa mendapatkannya dengan harga kain sisa,” paparnya.

Strategi ini bukan hanya brilian dalam menekan biaya produksi, tetapi juga merupakan praktik bisnis yang berkelanjutan (sustainable) dengan mengurangi limbah tekstil.

Hal ini memungkinkan Cahaya Pouch Etnik untuk menyasar segmen pasar yang lebih luas, yaitu mereka yang mencari oleh-oleh “murah meriah” tanpa mengorbankan kualitas dan estetika.

Untuk menjaga kualitas, setiap pouch dilapisi dengan busa setebal 2 inci di bagian dalamnya. Ini memberikan struktur yang lebih kokoh, tebal, dan melindungi isi di dalamnya, sebuah detail kecil yang menunjukkan keseriusan Rinna dalam menjaga standar produknya.

Produksi pun ia tangani dengan detail. “Saya yang menjahit dan melakukan quality control, ada satu kawan yang membantu untuk bagian menggunting pola dan mengobras, semua di bawah pengawasan langsung,” tambahnya.

Momen berkesan dari Produk Cahaya

Langkah Rinna untuk mengembangkan bisnisnya tidak berhenti pada penjualan personal, ia aktif bergabung dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pontianak dan Rumah BUMN di PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu).

Dari sinilah, jaringan pemasarannya terbuka lebar, ia menerapkan sistem konsinyasi atau titip jual yang terbukti sangat efektif.

Kini, Cahaya Pouch Etnik telah tersebar di titik-titik strategis dimana tempat pencarian oleh-oleh di Kota Pontianak.

Produknya dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh seperti Along di Jalan Gajah Mada, Outlet UMKM Hotel Mercure dan Hotel Borneo, namun penetrasi pasarnya yang paling signifikan adalah di toko oleh-oleh Bandara Internasional Supadio.

“Di bandara, Alhamdulillah sudah ada di tiga tempat, lantai bawah ada di Square M, pas di dekat pintu keberangkatan, lantai atas ada di Pandanwangi 1 dan Pandanwangi 2, rencananya akan mengisi juga di UMKM Corner yang baru di sana,” urai Rinna dengan rinci.

Namun, momen yang paling membekas dan menjadi pembuktian terbesar bagi bisnisnya terjadi saat Kota Pontianak menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional.

Di tengah ribuan produk UMKM lain yang membanjiri bazar tempat acara, Cahaya Pouch Etnik berhasil mencatatkan prestasi gemilang.

“Saat acara MTQ Nasional itu, pouch kami dinobatkan sebagai produk dengan penjualan terbaik atau best seller,” kenang Rinna dengan mata berbinar.

“Mungkin karena semua kafilah dari berbagai provinsi datang, mereka butuh suvenir yang kecil, ringan dan multifungsi”.

Momen ketika nama brand “Cahaya” diumumkan sebagai produk yang terlaris di acara sebesar itu, rasanya menjadi sebuah penghargaan yang luar biasa, itu sangat membekas dan membanggakan.”

Merangkul Kolaborasi dan Menatap Masa Depan

Seiring dengan meningkatnya permintaan, Rinna sadar ia tidak bisa selamanya berjalan sendiri, dalam sebulan, rata-rata ia mampu memproduksi sekitar 500 pieces.

Namun, ketika pesanan besar datang, angka itu bisa melonjak hingga 1.000 pieces atau lebih, fleksibilitas ini teruji ketika sebuah pesanan tak terduga datang dari Malaysia.

“Ada pesanan untuk suvenir acara di Malaysia, jumlahnya ratusan pieces dan harus selesai dalam dua minggu. Tentu saya tidak bisa kerjakan sendiri, akhirnya saya mengajak kawan penjahit lain untuk berkolaborasi dan syukurlah targetnya tercapai,” katanya.

Pengalaman ini membuka matanya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk skala bisnis yang lebih besar. Rinna tidak melihat penjahit lain sebagai kompetitor, melainkan sebagai mitra potensial untuk tumbuh bersama.

Baginya, bisnis ini bukan sekedar tentang keuntungan finansial, ada aspek sosial dan budaya yang ia emban.

“Dengan memperkenalkan batik dan motif Kalimantan Barat, kita turut mempromosikan daerah kita. Yang lebih membahagiakan lagi, usaha ini bisa memberi pekerjaan bagi kawan-kawan atau tetangga sekitar. Jadi ada aspek sosial untuk membantu orang lain,” tegasnya.

Ke depan, Catur Rinna Puspitasari bermimpi untuk bisa berekspansi ke kota-kota lain, tidak hanya sebagai produk oleh-oleh dari Pontianak, tetapi juga sebagai produsen suvenir yang mengadaptasi motif-motif khas dari daerah lain.

“Sudah ada tawaran dari pihak Pandanwangi di bandara. Mereka punya cabang di semua bandara di Indonesia. Mereka bertanya, ‘sanggup tidak mengisi untuk semua cabang?’.

Tentu saya harus optimis dan menjawab, ya mudah-mudahan bisa jika ada kesempatannya,” ujarnya penuh semangat.

Perjalanan Cahaya Pouch Etnik, yang dimulai dari ide iseng seorang ibu rumah tangga yang ingin membawa oleh-oleh fungsional, telah membuktikan bahwa dengan kepekaan melihat peluang, kecerdasan dalam eksekusi, dan kegigihan dalam berkarya, sebuah usaha rumahan pun dapat bersinar terang, menerangi tidak hanya ekonomi keluarga, tetapi juga membawa serta cahaya kebudayaan lokal ke tempat-tempat yang lebih luas.(Ar-S)

Jika anda berminat silahkan follow IG kami:

Instagram : @cahayapouchpontianak

  • Penulis: Arbi
  • Editor: Sonny

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cici Ar: Kerajinan Tangan Akar Keladi Air Dari Kubu Raya Play Button

    Cici Ar: Kerajinan Tangan Akar Keladi Air Dari Kubu Raya

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • 0Komentar

    “Kalau matahari terik, 3 sampai 4 jam bisa kering, tapi kalau musim hujan bisa berhari-hari,” tuturnya. Setelah kering, barulah akar-akar itu siap dianyam oleh tangan-tangan terampil para pengrajin. Untuk membuatnya lentur dan mudah dibentuk, akar kering akan dicelupkan kembali ke dalam air sebelum dianyam menjadi berbagai bentuk yang menawan. Kualitas dan keunikan inilah yang membawa […]

  • Askrindo Kalbar Gandeng UMKM Naik Kelas: Proteksi Terjangkau dan Visi Mengangkat Gengsi Produk Lokal photo_camera 4

    Askrindo Kalbar Gandeng UMKM Naik Kelas: Proteksi Terjangkau dan Visi Mengangkat Gengsi Produk Lokal

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • 0Komentar

    Yang menarik dari mekanisme Askrindo adalah sistem klaimnya. Alih-alih memberikan uang tunai yang berisiko digunakan untuk kebutuhan konsumtif, Askrindo memilih memberikan santunan dalam bentuk pembiayaan perbaikan. “Pernahkah terpikir gerobak bakso di parkiran ditabrak kendaraan? Atau jatuh ke parit? Kami bantu memulihkan dengan menanggung biaya perbaikannya. Ini untuk memastikan dana santunan tepat guna, agar usaha bisa […]

  • Dari Usaha Subsisten ke Kompetitif: Jurus Jitu Diskop UKM Prov. Kalbar Angkat Derajat UMKM photo_camera 5

    Dari Usaha Subsisten ke Kompetitif: Jurus Jitu Diskop UKM Prov. Kalbar Angkat Derajat UMKM

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Kalimantan Barat, Drs, Junaidi, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. “Kegiatan pelatihan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, namun merupakan strategi intervensi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pengusaha usaha mikro kecil, agar mampu bertransformasi dari usaha subsisten menjadi usaha produktif, modern, dan kompetitif,” ujar Junaidi. Sebagai […]

  • Rayakan Hari Jadi Kota Pontianak ke-254, Borneo Hotel Pontianak Gelar Lomba Masak Ikan Asam Pedas

    Rayakan Hari Jadi Kota Pontianak ke-254, Borneo Hotel Pontianak Gelar Lomba Masak Ikan Asam Pedas

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Menyambut Hari Jadi Kota Pontianak yang diperingati setiap tanggal 23 Oktober, Borneo Hotel Pontianak menyajikan Lomba Masak Ikan Asam Pedas yang akan menyulap kekayaan kuliner lokal menjadi ajang kreatif. Audisi awal lomba diselenggarakan pada 9–11 Oktober 2025, dimana para peserta cukup membawa masakan Ikan Asam Pedas hasil olahan mereka untuk dinilai secara […]

  • Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas Play Button photo_camera 5

    Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas

    • calendar_month Jumat, 1 Agt 2025
    • 0Komentar

    Dalam bukunya, “Profil Kerajinan Tenun Songket Sambas”, ia merinci setidaknya ada 17 tahapan proses yang harus dilalui, melibatkan kolaborasi sekitar enam orang pekerja untuk menghasilkan satu bentang benang yang bisa menjadi 5 hingga 10 helai kain. Proses ini adalah sebuah makna kerja tangan yang presisi dan penuh kesabaran: Menaral: Proses awal memintal benang dari gulungan […]

  • Wujud Komitmen Hotel Mercure Pontianak Untuk Berkontribusi Pada Perekonomian Lokal

    Wujud Komitmen Hotel Mercure Pontianak Untuk Berkontribusi Pada Perekonomian Lokal

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • 0Komentar

    Ini adalah salah satu upaya dan langkah yang telah diambil oleh Hotel Mercure Pontianak untuk memperkuat kerja sama dengan pengusaha lokal dan memajukan ekonomi daerah. Kolaborasi antara pihak perhotelan, UMKM lokal, BUMD, BUMN dan pemerintah daerah sangatlah penting untuk memperkuat ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat Kalbar.(Sn)

expand_less