Kampung Caping Mendawai Rumah Pengrajin Caping Di Pontianak
- calendar_month Minggu, 27 Jul 2025

PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Bagi masyarakat awam, mungkin pernah terlintas pertanyaan saat melihat caping dan tudung saji warna warni yang menjadi hiasan dinding untuk mempercantik dekorasi atau homedecor.
Dari mana bisa mendapatkan topi caping hias yang khas itu, siapa pembuatnya, dan di mana pusat produksinya? Nah dari pertanyaan itu kami akan mencoba untuk mengupas pertanyaan tersebut dalam artikel ini.
Berawal dari sebuah hobi untuk mengisi waktu, Ibu Suhaini menjadikan sebuah siklus ekonomi bagi para ibu rumah tangga di Kampung Mendawai dan Kampung Bangka.

Kampung Mendawai dinobatkan menjadi salah satu Desa Wisata atau Kampung Wisata Caping di Pontianak melalui program “Pesona Indonesia” yaitu kampanye pariwisata yang diluncurkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia, Kampung Wisata Caping berlokasi di tepian Sungai Kapuas, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.(sumber: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/_caping_pontianak).
Selama lebih dari 20 tahun pengalamannya dalam membuat caping, sehingga saat ini Ibu Suhaini dipercaya untuk menjadi Ketua Kelompok Pengrajin Caping di Kampung Caping Mendawai ini.
Namun ia tidak hanya menganyam helai demi helai daun mengkuang menjadi caping, tetapi juga merajut harapan dan kesejahteraan bagi para perajin caping.
Kisah Suhaini bersama caping bermula saat ia, seorang pendatang, menikah dengan warga asli kampung, ia belajar membuat caping dari mertuanya dan segera menyadari potensi kerajinan ini.
“Karena enaknya buat caping ini mudah mendapatkan uang,” kenang Suhaini dalam wawancara eksklusif, Kamis (24/7/2025).
Suhaini tidak sendirian ia juga ditemani salah satu pengrajin yang ada di Kampung Caping Mendawai, sapaan akrab warga sekitar kepadanya yaitu Ka Ina.
Dari Ori ke Kreasi: Sebuah inovasi dalam perkembangan tren
Di tangan terampil Suhaini dan sekitar 50 pengrajin lainnya di Kampung Mendawai, yang terdiri dari 25 kepala keluarga, caping bukan lagi sekedar pelindung kepala bagi petani dan nelayan tapi sebagai harapan pengrajin caping untuk lebih sejahtera.
Kerajinan yang telah dipatenkan sebagai ciri khas Kampung Mendawai ini telah berevolusi.

“Caping ini berasalnya dari ori dulu. Setelah jadi ori, jadi caping kreasi,” jelas Suhaini.
Caping “ori” atau orisinal adalah caping tradisional yang pembuatannya hanya memakan waktu 20-30 menit per buah.
Namun, para pengrajin juga melahirkan caping kreasi yang dihias dengan berbagai bahan, seperti kain perca, decoupage dari tisu, lukisan, kopi, hingga bahan limbah.
Varian kreatif ini tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga meroketkan nilai jualnya.

“Kalau caping biasa (ori) harganya Rp10.000 per buah. Tapi kalau tudung kreasi, itu bisa sampai Rp100.000,” ungkapnya.
Perbedaan harga ini sepadan dengan proses pembuatannya yang bisa memakan waktu hingga dua jam dan bahan baku yang lebih mahal.
Caping-caping kreasi ini menyasar pasar yang lebih luas, seperti dekorasi interior untuk hotel, kafe, restoran, serta menjadi properti untuk berbagai acara dan festival.
Cara Pembuatan Caping
Di balik bentuknya yang sederhana, proses pembuatan caping ternyata membutuhkan ketelitian dan teknik yang diwariskan turun-temurun.
Semuanya berawal dari pemilihan bahan baku utama, yaitu daun mengkuang.
Daun yang panjangnya bisa mencapai empat meter ini pertama-tama diukur dan dipotong dengan panjang yang seragam.
Helai-helai daun ini kemudian dianyam menjadi tiga bagian dasar yang oleh para pengrajin disebut ‘rengge’.




- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
