Kampung Caping Mendawai Rumah Pengrajin Caping Di Pontianak
- calendar_month Minggu, 27 Jul 2025

Setelah tiga ‘rengge’ siap, ketiganya lalu disatukan atau ‘dicantum’ hingga membentuk sebuah kerucut yang menjadi rangka utama caping.
Tahap selanjutnya adalah melapisi kerangka tersebut. Lapisan daun tambahan yang sudah diiris rapi dilekatkan pada kerangka, lalu dijahit dengan kuat menggunakan sejenis tali khusus yang disebut ‘tali kelayang’ untuk menyatukan seluruh lapisan daun.

Sebagai penguat struktur, sebuah lingkaran rotan dipasang di bagian tepi bawah dan diikat kencang dengan teknik ‘sirat’ menggunakan tali rafia.
Sebagai sentuhan akhir, ‘tampuk’ sebagai mahkota di puncak dan ‘lekar’ sebagai lingkar kepala di bagian dalam dipasang untuk menyempurnakan caping.
Yang menakjubkan, seluruh rangkaian proses yang rumit ini dapat diselesaikan oleh tangan-tangan terampil pengrajin hanya dalam waktu 20 hingga 30 menit untuk satu caping orisinal yang siap dijual ke pengepul atau pasar.
Ekosistem Ekonomi yang Berputar dan Saling Menguntungkan
Keunikan model bisnis di Kampung Caping terletak pada ekosistemnya yang solid dan saling menopang.
Para pengrajin bekerja sama dengan pengepul yang menyuplai bahan baku utama, yaitu daun mengkuang yang didapat dari hutan.
“Bahan baku utamanya daun mengkuang, rotan, dan tali. Daun bakunya kami ambil di hutan melalui kerja sama dengan pengepul,” kata Suhaini.
Sebagai bentuk kerja sama yang saling menguntungkan, para pengrajin akan menjual kembali caping yang sudah jadi kepada pengepul tersebut. Pengepul kemudian yang akan mendistribusikannya ke pasar-pasar besar.
“Kasian dia (pengepul) kalau seandainya dia jual [bahan baku] dia kan gak dapet untung apa-apa. Jadi kalau kita yang udah buat, kita jual balik lagi ke dia. Jadi ekonomi berputar, tidak hanya untuk pengrajin,” terangnya.
Misalnya bapak saya beli kepengepul, kami buat caping itu (yang belum diwarnai), nanti diolah sama pengepul, dicat disana, dari kita harga segini, mungkin kalo dicat beda lagi harganya. Tambah ka Ina salah satu pengrajin caping

Ekosistem rantai pasok ini memastikan setiap pihak, dari pencari daun di hutan, pengrajin, hingga pengepul, mendapatkan manfaat ekonomi secara merata.
Menjaga Warisan, Menatap Masa Depan
Meskipun zaman terus berubah, Suhaini optimis kerajinan caping akan terus lestari. “Selagi masih ada hutan, tetap berkelanjutan. Lagian ini kan Kampung Caping, harus ada,” tegasnya.
Keterampilan menganyam caping ini diwariskan secara turun-temurun. Suhaini menyebut bahwa generasi muda di kampungnya sudah memahami cara pembuatannya, meskipun belum sepenuhnya terjun sebagai profesi.
“Kan kita gatau kedepannya, siapa tau mereka juga tertarik untuk menjadi pengrajin caping, karna kan mereka sudah tau”. ucap ka ina. Hal ini memberikan secercah harapan bahwa regenerasi akan terus berjalan.
Harapannya untuk masa depan sangat jelas. “Harapannya ini supaya orang luar lebih kenal dengan Kampung Caping.
Mudah-mudahan generasi yang akan datang ini bisa buat melestarikan tudung ini, kreasinya lebih baik lagi, tapi bahannya harus dari bahan mengkuang,” ujarnya.
Bagi Suhaini dan para perempuan di Kampung Mendawai, menganyam caping bukan hanya sekedar pekerjaan.
Ini adalah cara mereka membuka lapangan kerja di rumah sendiri, yang memungkinkan mereka tetap mengurus anak dan rumah tangga sambil memiliki penghasilan yang tetap.
“Harapannya semoga para pengrajin sejahtera hidupnya, dapat meningkatkan taraf hidup. Jadi tidak memikirkan cari pekerjaan di luar, karena kita sudah bisa punya lapangan kerja di kampung sendiri,” tutupnya dengan penuh harap.(Ar-S)




- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
