Perjalanan Kopi Citra Wangi Berawal Dari Negeri Seberang Kembali Ke Tanah Borneo
- calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025

Sejak awal, Pitriana sadar bahwa di tengah lautan produsen kopi, ia harus menawarkan sesuatu yang berbeda. Jika rasa seringkali bersifat subjektif, maka presentasi adalah kunci. “Yang menarik itu mungkin pada bentuknya, dia oleh-oleh.
Jadi saya kemas dengan kemasan yang bagus, agar untuk dijadikan souvenir itu juga menarik dipandang orang. Jadi tidak malu-maluin, bahwa kopi dari Pontianak ini loh bentuknya,” tegasnya.
Strategi ini terbukti jitu, mengubah sebungkus kopi menjadi sebuah bingkisan premium yang membanggakan.
Standar “Kelas Festival” Rahasia di Balik Kualitas Ekspor
Kopi Citra Wangi tidak hanya unggul dalam penampilan. Di balik kemasan elegannya, tersimpan kualitas tanpa kompromi yang oleh Pitriana disebut sebagai standar “kelas festival”. Kunci utamanya terletak pada seleksi bahan baku yang super ketat.
“Pertama, pemilihan dari bahan baku, itu pasti. Bahan baku itu tidak boleh yang kecampur. Melainkan dia memiliki kelas tersendiri yang kualitas ekspor,” paparnya secara detail.
Proses seleksi ini dimulai dari biji kopi. Pitriana hanya menggunakan biji yang benar-benar matang di pohon (masak pohon ditandai berwarna merah). Ia menjelaskan secara ilmiah mengapa ini krusial.
“Kalau tidak masak pohon, boleh saja dipetik saat masih hijau tapi sudah keras, namun hasilnya tidak baik. Kalau kita jemur, dia akan keriput.
Jika pemetikan buahnya tidak matang hasilnya setelah kering akan keriput dan menghitam jika disangrai atau di-roasting, dia menjadi arang. Begitu disangrai, jadi seperti arang. Maka hasilnya tidak baik dan rasanya pun juga akan berbeda.”
Untuk menjaga pasokan bahan baku berkualitas ini, Kopi Citra Wangi menjalin hubungan dengan pengepul dari berbagai daerah. Untuk varian lokal, ia mendapatkan pasokan dari Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau, Kalimantan Barat.
Sementara untuk memperkaya varian, ia juga mengambil biji kopi dari Lampung. Kolaborasi ini memastikan setiap varian, mulai dari Classic, Spesial, Super, Gold, hingga varian Khatulistiwa yang khas dan memiliki standar kualitas yang terjaga.

Lompatan Keberanian untuk Mencoba Pasar Luar Negeri Sebelum Kampung Halaman
Inilah bagian paling unik dari perjalanan Kopi Citra Wangi. Berbeda dari kebanyakan UMKM yang merintis dari pasar lokal, Pitriana justru “nekat” memulai debutnya dari negeri seberang.
Setelah dua tahun fokus pada penyempurnaan produk dan perizinan, pada tahun 2022, sebuah kesempatan datang melalui UMKM Center yang difasilitasi oleh Disperindag Kota Pontianak.
“Justru saya memulai berani menjual di kampung sendiri itu setelah saya memberanikan diri untuk ikut event di luar negeri,” akunya.
Event perdana yang diikutinya adalah Sarawak Design Week 2022 di Malaysia. Dengan inisiatif dan biaya sendiri, ia membawa produknya yang saat itu sama sekali belum dikenal di Pontianak.

Hasilnya di luar dugaan. “Alhamdulillah kopi saya diterima, bahkan sampai sekarang ini mereka tetap langganan dengan saya. Di situlah mulainya saya berani untuk tampil,” kenangnya dengan bangga.
Momen di Sarawak menjadi titik balik. Apresiasi yang luar biasa, bahkan dari kalangan pejabat hingga Yang di-Pertua Negeri Sarawak yang turut membeli produknya, menjadi validasi tertinggi yang menyuntikkan kepercayaan diri luar biasa.
“Dia sangat menghargai usaha saya, keberanian saya. Dengan terkesan itulah membuat saya pede (percaya diri). Itulah yang membawa saya berani ke mana-mana,” tuturnya.
Keberhasilan ini membuka gerbang-gerbang berikutnya. Undangan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) mulai berdatangan. Kopi Citra Wangi pun secara konsisten berpartisipasi dalam pameran bergengsi di Sabah, Brunei Darussalam, hingga Kuala Lumpur.

Dari Negeri Seberang Kembali ke Tanah Borneo
Setelah mendapat pengakuan di negeri seberang, barulah Pitriana dengan percaya diri memperkenalkan Kopi Citra Wangi di “kampung halamannya” sendiri. Tawaran untuk menitipkan produknya di berbagai gerai oleh-oleh ternama pun mengalir deras.





- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
