Selasa, 7 Jul 2026
light_mode
Beranda » Inspirasi » Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas

Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas

  • calendar_month Jumat, 1 Agt 2025

Dalam bukunya, “Profil Kerajinan Tenun Songket Sambas”, ia merinci setidaknya ada 17 tahapan proses yang harus dilalui, melibatkan kolaborasi sekitar enam orang pekerja untuk menghasilkan satu bentang benang yang bisa menjadi 5 hingga 10 helai kain.

Proses ini adalah sebuah makna kerja tangan yang presisi dan penuh kesabaran:

  • Menaral: Proses awal memintal benang dari gulungan besar ke kolong, sebuah alat dari bambu kecil.
  • Mengani: Menggunakan alat bernama anean untuk menghitung secara cermat jumlah benang yang dibutuhkan. Ini adalah tentang efisiensi, memastikan tidak ada benang yang terbuang sia-sia.
  • Menghubung: Sebuah proses menakjubkan di mana sekitar 3.200 lembar benang dihubungkan satu per satu menggunakan jari.
  • Menyongket (Menyungkit): Inilah jantung dari proses pembuatan songket. Menggunakan alat unik seperti bulu landak, pengrajin “menyungkit” atau mengangkat lembaran benang untuk memindahkan pola dari kertas ke medium benang. Proses inilah yang memberi nama “songket” pada kain tersebut.
  • Menenun: Proses merapatkan benang pakan (horizontal) ke benang lusin (vertikal) untuk membentuk kain.

Alfian menjelaskan, “Tenun songket ini satu kalimat yang digabungkan atas dua pekerjaan.” Jika prosesnya melibatkan penyisipan benang emas atau perak, maka disebut kain songket. Jika tidak, ia disebut kain tenun.

Keputusan untuk mempertahankan metode padat karya ini bukan hanya tentang menjaga keaslian. Ada filosofi mendalam di baliknya.

“Ini juga menjadi alasan kita untuk mempertahankan nilai tradisional supaya selain warisan kita terjaga, kita bisa memberikan banyak lapangan pekerjaan,” kata Alfian.

Jika proses ini digantikan oleh Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) modern atau mesin pabrik, maka sumber pendapatan bagi banyak keluarga di pedesaan akan hilang.

Harmoni Motif dan Visi yang Tertunda

Keunikan tenun Sambas terletak pada motif-motifnya yang terinspirasi dari alam sekitar. Para pengrajin tidak berimajinasi tentang flora di negeri antah berantah, melainkan mengabadikan keindahan tumbuh-tumbuhan yang mereka lihat sehari-hari di halaman rumah.

“Umumnya motif-motif yang dibuat itu adalah motif berupa tumbuh-tumbuhan atau bunga atau dedaunan yang tumbuh di sekitaran masyarakat Sambas,” jelas Alfian.

Dari sekian banyak motif, ada satu yang dianggap sebagai puncak keindahan dan kerumitan: motif bunga mawar.

“Apabila pengrajin tenun Sambas itu membuat corak bunga mawar, artinya nilai estetikanya itu sudah pasti paling bagus, dan yang kedua tingkat kesulitannya sudah paling tinggi,” ungkapnya.

Motif seperti pucuk rebung mawar atau serong mawar menjadi penanda keahlian tertinggi seorang penenun, melampaui motif lain seperti sawak melaku atau bunga cengkeh.

Namun, di tengah kekayaan motif ini, Alfian menyimpan sebuah harapan yang belum terwujud. Ia bermimpi suatu saat pemerintah daerah berani menetapkan dan meluncurkan satu corak unggulan khas Sambas, seperti Palembang dengan motif Bintang Timur atau Malaysia dengan Bunga Kesidang.

“Sambas kita pernah melaunching itu. Berharap suatu saat ada keberanian untuk melaunching motif-motif unggulan yang dimiliki oleh Sambas,” harapnya.

Evolusi Bisnis dalam Tiga Pilar Pelestarian

Sahidah Songket menyadari bahwa untuk lestari, ia tidak bisa hanya diam di menara gading tradisi. Inovasi dan adaptasi adalah kunci. Sejak awal tahun 2000, diversifikasi produk mulai dilakukan.

Dari yang semula hanya memproduksi kain sarung dan selendang, kini produknya merambah ke kopiah, tas, dompet, sajadah, dasi, hingga bahan baju yang menjadi idola baru.

Kopiah songket, misalnya, menjadi buah tangan favorit tamu-tamu di Hotel Mercure Pontianak. Sementara bahan baju tenun katun kini diminati oleh berbagai kalangan, baik di Indonesia maupun Malaysia.

Alfian juga jeli melihat tren warna. Ia sadar bahwa selera konsumen dinamis. Namun, uniknya, selalu ada segmen pasar yang justru mencari warna-warna klasik untuk membangkitkan nostalgia masa lalu. Sahidah Songket melayani keduanya: mengikuti tren warna masa kini sambil tetap memproduksi karya-karya klasik.

Dalam menjalankan misinya, Alfian mendasarkan Sahidah Songket pada tiga pilar utama:

  1. Kepentingan Usaha: Memastikan roda ekonomi terus berputar agar pelestarian bisa berjalan. “Apabila permintaan akan kain songket ini masih terus ada, maka pengusaha tenun akan selalu ada dan pengrajinnya akan tetap bisa bekerja,” ujarnya.
  2. Kepentingan Wisata Industri: Membangun sebuah museum tenun mini di Sambas agar masyarakat dan wisatawan bisa melihat langsung jejak kejayaan dan peninggalan tenun Sambas dari masa ke masa.
  3. Kepentingan Edukasi: Melakukan regenerasi melalui pengetahuan. Alfian secara pribadi menulis beberapa buku dan bahkan cerpen bertema tenun, “Merajut Cinta di Atas Tenunan”, sebagai upaya agar generasi muda mengenal dan mencintai warisan budayanya.

Tantangan, Harapan, dan Panggilan untuk Aksi Bersama

Perjalanan Sahidah Songket bukannya tanpa duri (halangan). Tantangan terbesar hari ini bersifat multifaset. Kompetisi yang semakin ketat adalah keniscayaan.

Namun, tantangan yang lebih mengkhawatirkan datang dari faktor eksternal. Kelangkaan bahan baku, terutama benang katun berkualitas dengan harga terjangkau, menjadi kendala serius. Para pengrajin seringkali kesulitan mendapatkan benang yang konsisten kualitasnya.

Di sisi regenerasi, Alfian mengkritisi program pelatihan yang seringkali dilakukan pemerintah. “Kenapa sering gagal? Karena pelatihannya itu tidak tepat sasaran,” kritiknya.

Pelatihan yang hanya berlangsung 3-5 hari dinilai tidak akan pernah cukup untuk melahirkan seorang penenun andal, yang normalnya butuh waktu minimal dua bulan untuk bisa.

Ia mengusulkan model pelatihan yang berkelanjutan, fokus pada sekelompok kecil calon penenun hingga mereka benar-benar mahir.

Menghadapi semua ini, Alfian tidak menyerah. Harapannya membumbung tinggi, disertai panggilan untuk aksi bersama.

“Upaya pelestarian ini tentunya tidak hanya ditumpukan pada pundak pengrajin itu sendiri. Saya katakan itu bullshit. Tidak akan mampu,” tegasnya. Ia menyerukan perlunya kolaborasi sinergis antara pengrajin, masyarakat, dan terutama pemerintah.

Ia berharap pemerintah dapat membantu dalam pengadaan bahan baku, merancang program pelatihan yang efektif, dan yang terpenting, memasukkan pengetahuan tentang kerajinan tenun ke dalam kurikulum sekolah formal sebagai muatan lokal.

“Bagaimana agar anak-anak sekolah ini punya kepedulian akan warisan budaya di daerahnya. Jangan dia cuma mengenal warisan-warisan Korea, Jepang, tapi dia tidak mengenal kerajinan kita,” pesannya.

Kisah Sahidah Songket adalah cerminan dari perjuangan banyak perajin tradisional di Indonesia. Ini adalah cerita tentang keteguhan untuk bertahan, tentang keberanian untuk berinovasi tanpa mengkhianati akar, dan tentang harapan yang tak pernah putus.

Di setiap helai benang yang ditenun, Sahidah Songket tidak hanya menciptakan selembar kain, tetapi juga sedang merajut masa depan bagi warisan budaya Sambas, memastikan mahakarya ini akan terus hidup dan bercerita kepada generasi-generasi yang akan datang.(Ar-S)

  • Penulis: Arbi
  • Editor: Sonny

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perjalanan Kopi Citra Wangi Berawal Dari Negeri Seberang Kembali Ke Tanah Borneo Play Button photo_camera 5

    Perjalanan Kopi Citra Wangi Berawal Dari Negeri Seberang Kembali Ke Tanah Borneo

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025
    • 0Komentar

    Sejak awal, Pitriana sadar bahwa di tengah lautan produsen kopi, ia harus menawarkan sesuatu yang berbeda. Jika rasa seringkali bersifat subjektif, maka presentasi adalah kunci. “Yang menarik itu mungkin pada bentuknya, dia oleh-oleh. Jadi saya kemas dengan kemasan yang bagus, agar untuk dijadikan souvenir itu juga menarik dipandang orang. Jadi tidak malu-maluin, bahwa kopi dari […]

  • Bimtek Lifeskill Di Kawasan Rawan Narkoba Play Button photo_camera 6

    Bimtek Lifeskill Di Kawasan Rawan Narkoba

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • 0Komentar

    SANGGAU – (infoumkmkalbar) BNNK (Badan Narkotika Nasional Kabupaten) dan Disperindagkop UM Kabupaten Sanggau bekerja sama melakukan kegiatan Bimtek Lifeskill di Desa Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau.Bertempat di aula kantor desa Balai Karangan dari tanggal 5 – 7 Agustus 2025, kegiatan ini bertujuan untuk membentengi masyarakat dari peredaran narkoba terutama di daerah perbatasan yang merupakan […]

  • Upaya Camat Pontianak Utara Untuk Memperkenalkan dan Melestarikan Tanjak Sebagai Identitas Budaya Melayu di MTQ photo_camera 4

    Upaya Camat Pontianak Utara Untuk Memperkenalkan dan Melestarikan Tanjak Sebagai Identitas Budaya Melayu di MTQ

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • 0Komentar

    Menurutnya, ajang besar seperti MTQ adalah momen emas untuk promosi. Saat stand lain dipenuhi aneka makanan, Kecamatan Pontianak Utara sengaja menampilkan produk yang berbeda, mereka membawa produk unggulan dari Kampung Tanjak. “Event pembukaan seperti ini adalah saat orang berkumpul dan melihat. Kami ingin menunjukkan bahwa kami punya produk unggulan. Sengaja kami tampilkan Tanjak agar masyarakat […]

  • Pemberdayaan Masyarakat Lokal Melalui Gerai Samer di Simpang Ampar,Tayan Hilir Play Button photo_camera 4

    Pemberdayaan Masyarakat Lokal Melalui Gerai Samer di Simpang Ampar,Tayan Hilir

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • 0Komentar

    SANGGAU – (infoumkmkalbar) – Dalam era digital saat ini, pelaku usaha harus bisa bertransformasi dengan dunia digital dalam persaingan usaha sebab banyak sekali kebutuhan pasar yang terikat dengan digitalisasi seperti industri percetakan. Bertempat di jantung kota Tayan Hilir atau biasa disebut Simpang Ampar, Disperindagkop dan UM Kabupaten Sanggau menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Percetakan Melalui Digital Printing […]

  • Diskop UKM Prov. Kalbar Genjot Daya Saing UMKM Melalui Tiga Pilar Strategis

    Diskop UKM Prov. Kalbar Genjot Daya Saing UMKM Melalui Tiga Pilar Strategis

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • 0Komentar

    Langkah strategis lainnya adalah akselerasi sertifikasi halal. Sejalan dengan arahan Presiden, program ini menjadi prioritas utama.”Kita dorong untuk mendapatkan sertifikasi halal sesuai dengan perintah dari Bapak Presiden. Bahwa targetnya… sekarang ini 1 juta UMKM bersertifikasi halal,” tambah Herman. Kurasi Produk Unggulan dan Pelajaran dari Pandemi Tidak berhenti pada legalitas, dinas juga menjalankan program kurasi untuk […]

  • Dari Usaha Subsisten ke Kompetitif: Jurus Jitu Diskop UKM Prov. Kalbar Angkat Derajat UMKM photo_camera 5

    Dari Usaha Subsisten ke Kompetitif: Jurus Jitu Diskop UKM Prov. Kalbar Angkat Derajat UMKM

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Kalimantan Barat, Drs, Junaidi, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. “Kegiatan pelatihan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, namun merupakan strategi intervensi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pengusaha usaha mikro kecil, agar mampu bertransformasi dari usaha subsisten menjadi usaha produktif, modern, dan kompetitif,” ujar Junaidi. Sebagai […]

expand_less