Boyan Craft, Kerajinan Tangan Keren dari Pontianak
- calendar_month Rabu, 23 Jul 2025

Lucunya, ide awal nama “Boyan” justru tercetus dari akun game milik anaknya. Dewi dengan cerdas mengadaptasi nama tersebut dan memberinya makna filosofis melalui “cocoklogi” yang cerdas.
Proses ini menunjukkan kreativitas seorang pengusaha dalam membangun identitas merek yang tidak hanya unik dan mudah diingat, tetapi juga mengandung akan nilai dan suatu harapan.
Evolusi Produk: Dari Bunga Rajut Hingga Tas Motif Khas yang Ikonik
Pada awal kemunculannya, Boyan Craft identik dengan produk bunga rajut, di masa itu, bunga rajut merupakan sebuah tren baru yang banyak digemari.

“Dulu terkenalnya dengan bunga-bunga Boyan,” kata Dewi, namun, seiring berjalannya waktu dan setelah bergabung dengan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) tuntutan untuk memiliki produk dengan ciri khas daerah yang kuat semakin menganjurkan.
Mengusung suatu ciri khas daerah melalui bunga rajut, seperti motif bunga lidah buaya atau kantong semar, dirasa sulit untuk diproduksi secara massal, di tengah pencarian identitas produk baru, sebuah momen tak terduga kembali menjadi pemicu.

“Gara-gara ada tukar kado di komunitas,” ungkapnya, acara tersebut mengharuskan setiap peserta membuat tote bag. Alih-alih membuat tote bag biasa yang modelnya seragam, Dewi merealisasikan ide tas kotak-kotak yang sudah lama terpendam di benaknya. “Momen itu kan dipaksakan lah jadi direalisasikan,” ujarnya sambil tertawa.
Siapa sangka, tas hasil “keterpaksaan” itu justru mendapat sambutan hangat. Desainnya yang unik dan berbeda dari yang lain membuat banyak orang jatuh hati. Sejak saat itulah, Boyan mulai fokus pada pengembangan tas dengan motif-motif khas yang kini menjadi DNA dari merek tersebut.

Inovasi utamanya terletak pada permainan motif dan hiasan. “Orang taunya dari motif itu udah, oh ini punya Boyan,” tegas Dewi. Inilah bukti bahwa keunikan desain adalah kunci pembeda di pasar yang kompetitif.
Tempat Produksi dan Strategi Pemasaran Organik
Di balik setiap produk Boyan Craft yang cantik, terdapat sebuah tempat produksi yang solid meskipun tidak besar. Saat ini, Dewi dibantu oleh satu orang pengrajin tetap.
Namun, untuk pesanan dalam jumlah besar dan mendesak, ia memiliki jaringan pengrajin lepas yang siap membantu. “Saya potong di sini, mereka bawa ke rumah,” jelasnya mengenai sistem kerja fleksibel yang ia terapkan.
Dalam sehari, jika dalam kondisi fokus dan terpacu oleh pesanan, mereka berdua mampu memproduksi hingga 40 buah tas. Namun, untuk menjaga stok reguler, target harian yang lebih santai adalah sekitar 5 hingga 10 buah.
Salah satu rintangan utama yang dihadapi adalah pengadaan bahan baku. Untuk mendapatkan variasi warna yang lengkap dan harga yang lebih kompetitif, Dewi harus memesan bahan dari Pulau Jawa.
“Kalau di sini ada (Pontianak) cuman nggak lengkap dan harganya lebih mahal,” akunya. Hal ini mengharuskannya untuk pintar-pintar mengelola stok bahan agar proses produksi tidak terhambat saat ada pesanan mendadak.
Dalam hal pemasaran, Dewi Arisanti adalah contoh nyata kekuatan strategi offline atau “luring”. Boyan tumbuh besar melalui pemasaran organik dari mulut ke mulut dan partisipasi aktif dalam berbagai pameran.
“Tahunya kok saya masih organik kayaknya. Karena sering-sering ikut pameran, terus juga sering banyak nitip di beberapa titik,” paparnya.
Produk-produk Boyan dapat dengan mudah ditemui di gerai-gerai strategis seperti galeri Dekranasda, pusat oleh-oleh, hingga bandara. Keikutsertaannya dalam pameran bergengsi seperti INACRAFT, yang difasilitasi oleh Disperindag Kota Pontianak, menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa.
“Itu dulu impian pengrajin kan ikut INACRAFT di PCC (Pontianak Convention Center). Nggak nyangka aja kita yang dipilihkan,” ucapnya dengan nada bangga. Momen ini menjadi pengakuan atas kerja kerasnya dan membuatnya merasa sangat dihargai sebagai seorang pengrajin.

Meskipun pernah mencoba ranah digital melalui Tokopedia dengan hasil yang cukup baik saat dibantu promosi, Dewi mengaku saat ini kapasitas produksinya belum siap untuk memenuhi permintaan pasar online yang masif.
Fokus utamanya masih pada pemenuhan stok untuk gerai-gerai offline. “Saya maunya misalnya target saya kalau stoknya mungkin sudah 100 setiap item, baru saya masukkan ke marketplace,” jelasnya tentang strateginya ke depan.
Tantangan, Visi, dan Harapan untuk Masa Depan
Perjalanan Boyan tentu tidak selamanya mulus. Selain tantangan bahan baku, menemukan tenaga penjahit yang memiliki standar kualitas yang sama dengannya juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Namun, Dewi memiliki mentalitas yang tangguh. Karena produknya bukan barang yang mudah basi, ia tidak pernah merasa terlalu terpuruk jika ada produk yang belum laku.
“Barangnya gak basi kan, jadi kok misalnya gak laku pas pameran ini, ada pameran lain gitu,” ungkapnya optimis.
Di luar tujuan finansial, Dewi juga memiliki misi sosial yang mulia meskipun ia akui itu bukan prioritas utama saat ini.
Ia kerap mengajak keluarga dan tetangga sekitar untuk membantunya, memberikan mereka peluang penghasilan tambahan.
Selain itu, ia juga menerapkan konsep zero waste “tipis-tipis” dengan memanfaatkan sisa-sisa kain perca dari penjahit lain.
Ketika ditanya mengenai impiannya dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, visinya jelas dan besar.”Impian saya udah punya workshop yang menyediakan souvenir yang ready, minimal dikenal sebagai penyedia souvenir goodie bag dan oleh-oleh di Pontianak,” tegasnya.
Harapannya untuk Boyan adalah agar bisa terus bertahan, berkembang dengan variasi produk yang lebih kaya, dan yang terpenting, memiliki penerus yang bisa melanjutkan warisan “Anugerah Benang” ini.
Harga Pasaran dan Opsi Pembuatan Costum
Bagi konsumen yang tertarik untuk memiliki produk Boyan, penting untuk mengetahui struktur harganya. Harga setiap produk, terutama tas, ditentukan oleh beberapa faktor utama:
Ukuran: Semakin besar tas, semakin banyak bahan yang digunakan, sehingga harganya akan lebih tinggi.
Model dan Kerumitan: Tingkat kerumitan desain dan hiasan pada tas juga sangat mempengaruhi harga akhir.
Ibu Dewi Arisanti tidak terlalu membuka opsi kustomisasi total dari pelanggan. Hal ini dilakukan untuk menjaga efisiensi produksi dan konsistensi kualitas. Sebagai gantinya, ia menawarkan pendekatan yang lebih praktis.
“Saya nggak terlalu open mereka request, cuman saya kasih pilihan aja. Ini harganya segini, bahannya ini, ukurannya ini. Tinggal mereka pilih yang mana,” jelasnya.
Pelanggan akan disuguhkan katalog model-model yang sudah pernah ia produksi, memberikan mereka kebebasan memilih dari opsi yang sudah teruji kualitas dan estetikanya.
Pendekatan ini memastikan setiap produk yang keluar dari “kantor” (penyebutan tempat jahit yang ia namai) Boyan tetap memiliki standar dan ciri khas yang sama.
Untuk kisaran harga, produk-produk kerajinan tangan seperti tas jahit khas Boyan biasanya, bervariasi tergantung pada ukuran, kerumitan, dan jenis bahan yang digunakan.
Dalam hal ini Dewi Arisanti dan Boyan Craft adalah semangat UMKM di Kalimantan Barat, sebuah perjalanan yang dimulai dari kesederhanaan, ditenagai oleh hasrat, dan dibesarkan oleh ketekunan.
Ini bukan hanya tentang menjual produk: ini tentang menciptakan nilai, membangun komunitas, dan membangun harapan, sehelai demi sehelai benang jahit. (Ar-S)




- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
