Esterlina dan RereJuna Craft, Sebuah Kisah yang Menjadi Penopang Hidup dan Asa bagi Para Ibu
- calendar_month Selasa, 15 Jul 2025

Sejak saat itu, RereJuna Craft bukan lagi sekedar penyaluran hobi. Ia telah menjadi satu-satunya sumber penghasilan, tulang punggung bagi ia dan kedua anaknya. Tanggung jawab baru ini mendorongnya untuk menjadi lebih serius dan terstruktur.
Ia mulai membuat rencana, program pelatihan, jadwal, dan strategi promosi melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook.Di tengah kesulitan ini, sebuah peristiwa lain justru memperkuat misinya.
Ia bertemu dengan istri seorang konsul dari Konsulat Malaysia yang memintanya untuk mengajar membuat tas. Sebagai bentuk apresiasi, ia dihadiahi sebuah mesin jahit.
“Sejak itu saya juga merasa mendapatkan amanah. Amanah untuk, ‘Oh, saya harus ini nih, lebih konsen lagi ngajarin orang’,” katanya. Peristiwa ini menjadi pendorong utama di balik lahirnya kelas pelatihan RereJuna Craft.
Bukan Sekadar Bisnis, Ini adalah Misi Pemberdayaan di Balik Mesin Jahit
Kelas pelatihan yang diadakan setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) menjadi wujud nyata dari misi pemberdayaan Esterlina.
Filosofinya sederhana namun sangat mendalam. Ketika ditanya apa syarat untuk bisa belajar menjahit darinya, jawabannya lugas.
“Syaratnya cuma satu: mau. Kalau mau, semua sesusah apapun itu pasti bisa dilakukan. Kalau orang udah enggak mau, kan susah,” tegasnya.
Ia tidak mensyaratkan calon muridnya harus sudah bisa menjahit. Kemauan adalah kunci utama. Visinya jelas, ia ingin para perempuan, khususnya ibu rumah tangga dan ibu tunggal, memiliki keterampilan yang bisa menjadi sumber penghasilan.
“Saya inginnya ibu rumah tangga itu tidak hanya mengurus rumah aja. Jadi ibu rumah tangga itu harus punya sesuatu yang bisa menghasilkan, apalagi kalau ibu tunggal,” jelasnya, berkaca dari pengalamannya sendiri. “Harus punya keterampilan juga yang bisa menghasilkan, kan kita enggak tahu apa yang akan terjadi nanti.”
Kebanggaan terbesarnya sebagai pengajar bukanlah tentang berapa banyak murid yang ia miliki, melainkan ketika melihat mereka berhasil.
“Saya tuh bangga kalau misalnya melihat mereka nih, yang dulunya belajar dengan saya, yang awalnya mereka tuh enggak bisa sama sekali, kemudian mereka belajar dan sampai mereka bisa membangun brand sendiri, apalagi mendapatkan penghargaan,” tuturnya dengan mata berbinar.
Melihat muridnya berkembang, mandiri, dan usahanya bisa menopang keluarga adalah pencapaian terbesar baginya.
Sebuah Tantangan dan Realita Dalam Menjalin Benang Antara Usaha dan Keluarga
Menjadi seorang ibu tunggal sekaligus pengusaha UMKM tentu bukanlah hal yang mudah. Esterlina mengakui bahwa tantangan utama yang ia hadapi adalah modal.
Keterbatasan modal membuatnya belum bisa membangun tim yang solid, terutama di bidang pemasaran. Saat ini, ia baru memiliki tim produksi. Untuk produksi dalam jumlah,bekerja sama dengan penjahit tas lainnya.
Tantangan lainnya adalah manajemen waktu. Ia harus pandai menyeimbangkan perannya sebagai ibu dan pengusaha. Baginya, anak-anak adalah prioritas utama.
“Kalau misalnya jadwal saya mengantar anak, ya saya fokus mengantar anak dulu. Pagi itu urusan anak-anak dulu,” paparnya. Ia menyisipkan waktu untuk bekerja di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga, biasanya sekitar 1 hingga 4 jam sehari.
“Saya yakin rezeki itu tidak akan ke mana. Jadi saya urusan anak-anak dulu, kalau udah selesai semua urusan anak-anak, baru usaha.”
Meski begitu, ia menunjukkan profesionalisme tinggi. Jika ada tenggat waktu yang mendesak, ia tak segan untuk bekerja lembur di malam hari untuk memastikan pesanan selesai tepat waktu.
Harapan dan Visi ke Depan sebagai penjahit Masa Depan yang Berkelanjutan
Ketika ditanya mengenai pencapaian terbesar, jawaban Esterlina bukanlah tentang piala atau bingkai penghargaan. Kebahagiaannya terletak pada kepuasan pelanggan dan kemampuannya menaklukkan tantangan.
Momen ketika produknya dipegang oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, saat menjadi finalis Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) menjadi salah satu kenangan manis.

Namun, kebanggaan sejati ia rasakan setiap kali berhasil mewujudkan tas impian seorang pelanggan. “Orangnya tuh puas, orangnya senang, itu kebanggaan bagi saya,” katanya.
Ke depan, Esterlina tidak memiliki mimpi muluk untuk ekspansi internasional secara pesat. Harapannya sangat membumi dan realistis.
“Harapannya sih usaha ini berjalan terus. Yang penting dia tuh ada terus gitu loh, dan bisa mencukupi kebutuhan kami,” ujarnya. Pekerjaan rumah terbesarnya adalah membangun sistem agar usaha ini bisa berjalan lebih mandiri.
Kisah Esterlina dan RereJuna Craft adalah bukti nyata bahwa semangat, ketekunan, dan kemauan untuk beradaptasi adalah benang terkuat untuk menenun sebuah bisnis yang tidak hanya menghasilkan profit, tetapi juga menebar manfaat.
Dari sebuah hobi sederhana, ia telah membangun sebuah harapan baru untuk keluarganya, dan untuk para perempuan lain yang ia bimbing.(Ar-S)
Jika anda berminat untuk membuat tas bahan model costum. Anda bisa mengikuti akun dibawah ini:
Instagram : @rerejunacraft.workshop
Facebook : @ester.lina.77





- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
