KeGia Memadukan Pesona Batu Alam dan Tenun Khas Kalbar
- calendar_month Kamis, 17 Jul 2025

“Kenapa saya mengambil nama anak saya? karena usaha ini kan saya rintis dari awal, jadi seperti saya mengasuh dan melihat anak saya, seperti itu saya akan membuat usaha saya ini mulai dari titik nol sampai hingga saat-saat sekarang,” tutur Maya dengan sorot mata penuh kehangatan.
Filosofi ini menjadi kompas moral bagi KeGia, setiap produk yang dihasilkan bukan sekadar barang dagangan, melainkan sebuah karya yang tumbuh kembang dengan kesabaran, cinta, dan perhatian penuh terhadap detail, persis seperti merawat seorang anak dari kecil hingga ia tumbuh dewasa dan membanggakan.
Memadukan Budaya Khas Kalbar dan Keindahan Alam
Keunggulan utama dan jiwa dari KeGia terletak pada keberaniannya mengangkat kearifan lokal, jika pada awalnya Maya hanya berfokus pada kombinasi batu alam dan payet, kesadarannya sebagai putri daerah Pontianak mendorongnya untuk melakukan inovasi yang lebih bermakna.

Ia memutuskan untuk memasukkan unsur wastra khas Kalimantan Barat ke dalam setiap desainnya.
“Karena saya dari Pontianak, otomatis lebih luasnya Kalimantan Barat, saya mau memasukkan kultur kearifan lokal di dalam kerajinan saya,” tegasnya.
Maka, lahirlah aksesoris KeGia yang kita kenal hari ini yaitu bros, kalung, anting dan gelang yang tak hanya indah, tetapi juga bercerita.
Dalam sebuah liontin kalung, kita bisa menemukan harmoni antara kilau batu kecubung dengan motif khas Kain Corak Insang dari Pontianak.
Pada sepasang anting, mungkin terselip potongan Tenun Ikat Sintang yang eksotis. Di lain waktu, kemewahan Songket Sambas berpadu mesra dengan Payet Jepang yang mengelilingi batu alam pilihan.

Langkah ini bukan sekadar tempelan estetika, ini adalah sebuah pelestarian budaya, Maya secara sadar menjadikan aksesorisnya sebagai kanvas berjalan untuk memperkenalkan kekayaan wastra tanah kelahirannya kepada khalayak yang lebih luas.
Proses pembuatan yang Menuntut Kesabaran
Untuk memahami nilai sesungguhnya dari sebuah produk KeGia, kita perlu menengok proses pembuatannya, karena ini adalah sebuah seni dari kesabaran dan ketelitian yang jauh dari proses produksi massal (menggunakan mesin).
- Kurasi Bahan Baku : Semuanya dimulai dari pemilihan bahan, Maya secara personal memilih batu alam, mempertimbangkan jenis, kualitas, dan karakternya, kemudian, ia akan mencocokkan batu tersebut dengan motif kain tenun yang paling serasi, bahan pendukung lainnya seperti payet Jepang (yang terkenal akan konsistensi ukuran dan warnanya), kristal, dan mutiara juga dipilih dengan standar kualitas yang tinggi.
- Peletakan dan Penjahitan Inti : Batu alam kemudian ditempelkan pada sebuah bidang dasar kain, di sinilah keajaiban teknik cabochon bead embroidery dimulai, Maya atau asistennya, akan menjahit payet Jepang satu per satu di sekeliling tepian batu alam. “Payet Jepang itu saya jahit satu persatu, teknik inilah yang disebut kerajinan cabochon bead embroidery,” jelasnya, proses inilah yang memakan waktu paling banyak dan membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi.
- Finishing : Setelah bagian inti selesai, barulah proses penyelesaian akhir dilakukan. Memberikan lapisan penutup di bagian belakang agar rapi dan nyaman di kulit, memasang rantai untuk kalung, pengait untuk anting, atau peniti untuk bros.
Setiap langkah dilakukan dengan tangan (handmade), memastikan bahwa setiap produk yang lahir adalah unik dan memiliki sentuhan personal yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh mesin.
Menjangkau Pasar Lokal dan Nasional
Dari sebuah hobi rumahan, KeGia telah melebarkan sayapnya secara impresif, Maya menerapkan strategi penjualan ganda antara daring (online) dan luring (offline).
Di ranah digital, KeGia aktif menyapa audiensnya melalui Instagram, TikTok, dan Facebook, serta memiliki toko di beberapa marketplace.
Kanal-kanal ini tidak hanya berfungsi sebagai etalase, tetapi juga sebagai media untuk bercerita tentang produk baru dan proses di baliknya.
Sementara itu, untuk penjualan luring, produk KeGia dapat ditemukan di lokasi-lokasi strategis yang menyasar target pasarnya: perempuan usia 25 hingga 50 tahun yang menghargai keunikan dan kualitas.
Selain Produk-produk ini terpajang cantik di workshop pribadinya juga dapat dibeli di Gaia Mall Pontianak, di Gerai kedatangan Bandara Internasional Supadio, di Outlet oleh-oleh UMKM Corner Hotel Mercure dan Hotel Borneo Pontianak hingga di Gedung UMKM Center Dekranasda Kota Pontianak.
Fleksibilitas juga menjadi kunci. “Saya menerima kustom,” kata Maya, pelanggan bisa datang dengan preferensi warna batu, jenis kain, atau desain tertentu, dan KeGia akan mewujudkannya.
Ini adalah layanan yang menunjukkan komitmen pada kepuasan pelanggan dan pemahaman mendalam akan keinginan pasar.
Tantangan, Kolaborasi, dan Harapan di Masa Depan
Perjalanan KeGia, meski tampak gemilang, tidaklah bebas dari tantangan, Maya secara jujur mengakui bahwa tantangan terbesarnya saat ini adalah pemasaran.
“Tantangan terbesar saat ini ya memang pemasaran, karena kan otomatis kita inginnya bahwa produk kita bukan hanya di lokal saja, pasti bisa sampai ke Nasional dan Alhamdulillah kalau bisa sampai Internasional,” ujarnya.
Baginya, pemasaran bukan sekadar tentang menjual, tetapi tentang memperkenalkan dan membangun pengenalan merek (brand awareness).

Semakin banyak orang mengenal KeGia, semakin besar pula peluang untuk meningkatkan penjualan dan menjangkau pasar yang diimpikan.
Untuk menghadapi tantangan ini, Maya tidak berjalan sendiri, ia sangat aktif dalam komunitas dan telah menerima banyak sekali dukungan pelatihan dari berbagai instansi, mulai dari Pemerintah, BUMN hingga Kementerian.
Baginya, komunitas adalah wadah vital untuk saling berbagi informasi, mengetahui tren, dan bahkan berkerjasama saat menerima pesanan dalam jumlah besar.
Teknologi, yang dulu menjadi gerbangnya untuk belajar, kini menjadi alat utamanya untuk promosi dan mencari inspirasi.
“Saya terbantukan dengan media sosial, referensi kita, pengetahuan kita malah lebih banyak,” akunya, sambil menyisipkan sedikit humor tentang sisi negatifnya yang bersifat personal, “kadang-kadang kita suka lupa waktu.”
Menutup perbincangan, harapan Maya untuk KeGia terdengar jelas dan penuh optimis., ia bermimpi usahanya akan terus berkembang, omzetnya terus meningkat, dan yang terpenting, merek yang ia rawat seperti anaknya sendiri ini dapat melenggang ke panggung Internasional.
“Berharap semoga produk KeGia ini bukan hanya dikenal secara Nasional juga, kalau bisa, secara Internasional,” pungkasnya.
Kisah KeGia dan Maya Noviza adalah cerminan semangat UMKM Indonesia yang sesungguhnya, sebuah perpaduan antara gairah pribadi, kecerdasan bisnis, dan cinta yang tulus pada budaya bangsa.
Setiap helai benang tenun yang terjahit, setiap kilau batu yang terbingkai, adalah sebuah deklarasi bahwa produk lokal memiliki kekuatan untuk bersinar, tidak hanya di negeri sendiri, tetapi juga di mata dunia dan perjalanan KeGia, yang dirajut dari titik nol, masih akan terus berlanjut.(Ar-S)






- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
