Tak Sekadar Brand, Betanun Membawa Asa, Warisan dan Martabat Tenun Sambas
- calendar_month Rabu, 9 Jul 2025

Jarak dan medan yang sulit ini, alih-alih menjadi penghalang, justru menjadi penegas otentisitas dan eksklusivitas setiap helai benang yang ditenun. Lokasi yang terisolasi ini jugalah yang menjaga kemurnian teknik tenun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Inovasi Motif dan Filosofi dalam Sehelai Kain
Apa yang membedakan Betanun dari yang lain? Jawaban Erwansah tegas, tentu Inovasi dan Filosofi. Di tangannya, kain tenun Sambas tidak lagi terpaku pada pakem lama yang mungkin kurang relevan dengan selera pasar modern.
“Ciri khas kami, pertama, adalah inovasi. Motifnya kita setiap tahun selalu berganti dan warnanya kita mengikuti tren warna,” jelas Erwansyah.
Ini adalah langkah strategis yang krusial. Betanun tidak anti-tradisi, melainkan menerjemahkan tradisi ke dalam bahasa visual yang dipahami dunia saat ini.
Lebih dari itu, setiap motif yang lahir tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna. “Ada filosofi tersendiri dari motif yang kita munculkan setiap tahun,” katanya.

Fokus Betanun yang unik adalah pada motif-motif yang terinspirasi dari Brunei Darussalam. Keputusan ini lahir dari permintaan pasar yang kuat, terutama dari luar negeri.
Motif-motif populer seperti Sukma Indra, Sipu Gud, Arat Gegati, dan Jom Sarat menjadi primadona, sering dipesan untuk acara-acara sakral seperti hantaran pernikahan atau sebagai busana kehormatan.
Ini menunjukkan kelihaian Erwansah dalam membaca peluang pasar tanpa meninggalkan akar dari budayanya.
Tantangannya tidak mudah. Mengubah pola pikir para pengrajin yang terbiasa dengan motif-motif warisan menjadi tantangan tersendiri.
“Tantangan terbesarnya di masyarakatnya sendiri, mereka masih pola pikirnya pengen motif-motif lama. Sementara kalau pesanan sendiri, itu mereka pengennya motif yang sudah modern,” tuturnya.
Di sinilah peran Erwansah sebagai edukator menjadi vital. Ia harus sabar mengedukasi tentang desain, tren warna, dan permintaan pasar, menjembatani dua dunia yang berbeda.
Tangan-Tangan Terampil sebuah Kisah Pemberdayaan di Balik Keindahan
Betanun adalah sebuah ekosistem, bukan pabrik. Kekuatannya terletak pada para pengrajinnya, yang sebagian besar adalah perempuan-perempuan tangguh dari Desa Jirak dan Tinguli.
Erwansah menyebutkan ada sekitar 7-10 orang pengrajin inti yang ia percayakan untuk mengerjakan tenun-tenun eksklusif hasil desainnya.

Dengan penuh hormat, ia menyebutkan beberapa nama di antara mereka: Mak Cik,Mak Utih hingga Nek Su. Mereka bukan sekadar pekerja, melainkan mitra dan jantung dari Betanun.
Erwansah tidak hanya memberikan mereka pekerjaan, tetapi juga sebuah panggung untuk menunjukkan keahlian mereka kepada dunia, serta untuk mensejahterakan para perajin disana.
Lebih jauh lagi, Betanun mengemban misi sosial yang mulia. “Alhamdulillah, saya juga menyokong ekonomi mereka. Ada beberapa janda-janda yang saya berdayakan di sana,” ujar Erwansah.
Ini adalah bukti nyata bahwa bisnis bisa berjalan seiring dengan nurani. Pemberdayaan ini tidak berhenti pada upah menenun.
Erwansah membangun sebuah jaring pengaman sosial yang komprehensif bagi para mitranya.
“Selain mereka menenun, saya juga fasilitasi untuk beasiswa pendidikan, terus beasiswa lanjut usia,” jelasnya.
Sebuah konsep yang luar biasa. Anak-anak para pengrajin mendapatkan dukungan pendidikan, sementara para pengrajin yang sudah memasuki usia senja dan tidak lagi mampu menenun, tetap mendapatkan tunjangan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka selama ini.
Ini adalah sebuah model bisnis sosial yang patut menjadi inspirasi bagi para pengusaha UMKM lainnya.
Menjaga Asa Tetap Menyala suatu Regenerasi dan Visi Masa Depan
Salah satu kekhawatiran terbesar dalam pelestarian budaya adalah putusnya regenerasi. Erwansah sadar betul akan ancaman ini.






- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
