Tak Sekadar Brand, Betanun Membawa Asa, Warisan dan Martabat Tenun Sambas
- calendar_month Rabu, 9 Jul 2025

Ia melihat banyak generasi tua yang usianya sudah rentan, sementara anak-anak muda lebih memilih merantau untuk mencari pekerjaan lain.
“Budaya di sana sudah mulai, generasi kebudayaan sudah mulai tidak suka dengan menenun,” kenangnya tentang kondisi awal.
Namun, ia tidak menyerah. “Saya selalu memotivasi anak muda di sana untuk terus mengembangkan tenunnya.”
Usahanya berbuah manis. Kini, di antara pengrajin senior yang usianya mencapai 63 tahun, telah hadir wajah-wajah baru yang lebih muda, siap melanjutkan tongkat estafet.
“Saya sudah punya pelestarian pengrajinnya, sudah ada, khususnya anak-anak mereka,” katanya bangga.
Visi Erwansah untuk Betanun tidak berhenti di pasar domestik. Ia menatap jauh keatas panggung Internasional. “Targetnya tidak hanya di pasar Nasional, tapi ke Internasional,” tegasnya.
Keberhasilannya sejauh ini menjadi bukti bahwa visinya bukan hanya ucapan semata namun hasil dari kerja keras selama 10 tahun lamanya. “Sejauh ini baik-baik saja, bahkan kita sudah mengantri untuk satu tahun ke depan, sudah ada orderan.”
Di masa depan, ia juga berencana untuk mengolah limbah tenun menjadi karya baru, menunjukkan komitmennya pada prinsip keberlanjutan (sustainability).
Ia juga sadar tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi adalah kunci. “Saya sangat butuh kerja sama. Saya tidak pandang bulu siapa orangnya, yang penting dia bisa men-support kami sebagai pengrajin,” ujarnya, membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berkontribusi.
Harapan untuk Generasi Muda dan Panggilan untuk Semua
Di akhir perbincangan, Erwansah menitipkan sebuah harapan besar, terutama untuk generasi muda. Ia berharap mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga agen promosi bagi wastra dari daerah mereka sendiri.
“Harapan saya, mereka juga membantu mempromosikan wastra mereka yang sudah turun temurun. Terus, mereka juga harus belajar sedikit-sedikit, dan jangan malu untuk menggunakan wastra,” pesannya.

Ia menekankan bahwa wastra kini bisa dipadukan dengan gaya busana sehari-hari, membuatnya relevan dan keren untuk dipakai anak muda.
Kepada pemerintah dan masyarakat luas, harapannya jelas: dukungan. Dukungan dalam bentuk promosi, bantuan pembiayaan untuk menjaga keberlangsungan produksi, dan yang terpenting, dengan membeli dan memakai produk lokal. “Mereka harus memakai juga, membantu memakai dan membeli produknya kami,” pintanya.
Perjalanan Betanun adalah sebuah mahakarya itu sendiri. Ini adalah narasi tentang bagaimana satu orang dengan visi yang jelas mampu mengubah nasib sebuah komunitas, melestarikan budaya yang nyaris pudar, dan membuktikan bahwa produk dari desa terpencil pun bisa “merajai” pasar global.
Erwansah dan para perempuan tangguh di Desa Jirak dan Tinguli tidak hanya menenun benang. Mereka menenun harapan, menenun kemandirian, dan menenun masa depan yang lebih cerah untuk wastra Sambas.
Dan cerita mereka layak untuk didengar, didukung, dan dirayakan oleh seluruh Indonesia. Harapannya sederhana namun kuat, “Semoga Betanun tetap terus berkembang dan makin merajarela ke mana pun pasarnya.” (Ar-S)






- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
