Perjalanan Kopi Citra Wangi Berawal Dari Negeri Seberang Kembali Ke Tanah Borneo
- calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025

PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Di tengah kecemasan dan ketidakpastian yang melanda dunia pada awal tahun 2020, sebuah percikan ide justru menyala terang di sebuah rumah di Jalan Tabrani Ahmad, Gang Citra, Pontianak.
Adalah Ibu Pitriana, seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja kantoran di sebuah Perusahaan Asuransi ternama, yang mengubah tantangan masa pandemi menjadi sebuah peluang emas.
Dari tangannya, lahir Kopi Citra Wangi, sebuah merek kopi bubuk yang tidak hanya berhasil merebut hati penikmat lokal, tetapi juga sukses menuju ke negeri seberang, membuktikan bahwa krisis bisa menjadi momentum kreativitas yang luar biasa.
Kisah Kopi Citra Wangi bermula pada tanggal yang unik, 20 Februari 2020. Saat kebijakan Work From Home (WFH) menjadi norma baru, Pitriana mendapati dirinya memiliki kelimpahan waktu. Alih-alih terlarut dalam suasana suram, ia justru terdorong untuk berpikir produktif.
“Di masa itu mungkin orang banyak yang berpikiran negatif atau frustasi. Di situ saya berusaha untuk bagaimana caranya kita memperoleh pemasukan atau menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru yang tidak mesti keluar rumah,” kenang Pitriana dengan sorot mata penuh semangat saat wawancara eksklusif (10/7/2025).
Ide untuk terjun ke bisnis kopi bubuk tidak datang begitu saja. Semua berawal dari kebiasaan sederhana Pitriana yang sering memberikan oleh-oleh souvenir, lalu terpikir kenapa tidak memberikan kopi khas Pontianak saja sebagai cinderamata atau goodie bag bagi para tamu-tamu kantornya dari luar kota.
Reputasi kopi olahan Pontianak yang kerap disebut sebagai salah satu yang terbaik di luar sana menjadi pemicunya. “Dari situ saya mulai berpikir, kenapa tidak kopi yang saya produksi sendiri?” ujarnya.
Pemikiran ini semakin matang saat ia menganalisis prospek pasar kopi, baginya adalah produk yang tak lekang oleh waktu. “Pikiran saya, mau tua, mau muda, mau jamannya kapan saja, kopi selalu tersedia (eksis).
Kalaupun di dalam rumah tidak ada yang minum kopi, paling tidak tamunya ngopi dan dia tetap berusaha menyediakan kopi untuk diseduh,” jelasnya.
Logika sederhana namun kuat inilah yang memantapkan langkahnya untuk memulai produksi sendiri.
Citra Wangi dan Suatu Identitas yang Kuat
Sebuah produk hebat membutuhkan nama yang tak hanya mudah diingat, tetapi juga sarat akan makna. Pitriana memilih nama “Citra Wangi”.

Pilihan ini memiliki dua lapisan makna yang cerdas. “Asal-usul Citra Wangi itu karena saya berada di Gang Citra, biar gampang mengingatnya,” ungkapnya.
Namun, lebih dari sekadar penanda lokasi, “Citra” membawa filosofi yang lebih dalam. “Citra itu sebenarnya unik ya, mau kita bawa kemana, citra yang baik.
Jadi saya berharapnya citra yang baik saja,” imbuhnya. Dipadukan dengan “Wangi”, yang secara harfiah berarti harum dan menjadi salah satu keunggulan utama produknya, lahirlah sebuah jenama dengan identitas yang kokoh.





- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
