Selasa, 7 Jul 2026
light_mode
Beranda » Inspirasi » Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas

Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas

  • calendar_month Jumat, 1 Agt 2025

PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Di sebuah sudut negeri yang kaya akan budaya, di tengah gempuran modernisasi dan produk pabrikan yang seragam, sebuah home industri berdiri teguh.

Napasnya adalah tradisi, denyutnya adalah dedikasi. Namanya Sahidah Songket, sebuah jenama yang tidak hanya menjual selembar kain, tetapi juga merajut kisah, melestarikan warisan, dan memperjuangkan keaslian tenun Sambas.

Di balik nama merek yang sarat makna itu, berdiri seorang pria bernama Alfian yang suka disapa dengan sebutan Alfian Songket, ia bukan hanya sekedar seorang yang mengelola suatu bisnis.

Dengan sorot mata yang menyiratkan gairah dan kecintaan mendalam, ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang “pelestari”. Sebuah peran yang ia emban dengan penuh tanggung jawab sebagai generasi ketiga dalam keluarganya.

“Saya di home industri Sahidah Songket ini sebagai pengelola usahanya, tapi ya lebih kepada kita pelestari,” ujar Alfian dengan nada mantap.

“Pelestari tenun songket tradisional, juga tenun ikat tradisional khas Sambas. Intinya bahwa kita komit untuk memproduksi, membuat, dan melestarikan tenun-tenun tradisional.”

Komitmen inilah yang menjadi benang merah dari seluruh perjalanan Sahidah Songket, sebuah epik yang membentang lebih dari setengah abad, melintasi tiga generasi, dan menghadapi berbagai tantangan zaman.

Akar Sejarah: Dari Nenek Turun ke Ibu, Kini di Tangan Sang Cucu

Kisah Sahidah Songket tak bisa dilepaskan dari sosok inspiratif di balik namanya: Ibu Sahidah, ibunda dari Alfian. Nama “Sahidah” diabadikan bukan tanpa alasan. Ia adalah matriark, sumber mata air dari ilmu dan semangat menenun yang kini mengalir deras.

“Sahidah itu menjadi nama usahanya saya ambil dari nama ibu saya,” ungkap Alfian. Perjalanan Ibu Sahidah dengan tenun dimulai pada usia yang sangat belia, 14 tahun, di kampung halamannya di Sambas.

Ilmu itu ia dapatkan langsung dari ibunya, yang berarti nenek dari Alfian. Ini menjadikan Alfian pewaris tradisi generasi ketiga, sebuah amanah yang tidak ringan.

“Ibu saya itu mempelajari usaha tenun ini dari beliau berumur 14 tahun. Jadi saya ini merupakan generasi ketiga dalam keluarga saya yang melestarikan tenun Sambas,” tuturnya dengan bangga.

Kini, di usianya yang menginjak 80-an tahun, jemari Ibu Sahidah mungkin tidak lagi lincah di atas alat tenun. Namun, semangatnya tak pernah padam.

Ia beralih peran menjadi seorang maestro di balik layar, seorang kurator kualitas dan desainer corak yang memastikan setiap helai kain yang lahir dari rahim Sahidah Songket memiliki DNA keaslian dan keindahan yang terjaga.

Perjalanan bisnis itu sendiri dimulai secara resmi pada tahun 1969. Dengan visi yang melampaui batas-batas kampungnya, Ibu Sahidah membawa tenun Sambas keluar dari zona nyamannya. Ia hijrah ke Singkawang pada era 70-an, sebuah langkah berani untuk mencari pangsa pasar yang lebih luas.

Setelah kurang lebih lima tahun membangun reputasi di sana, ia kembali ke Sambas pada tahun 80-an, meneruskan usaha dengan nama yang sama.

Meski sempat mengalami pasang surut dan periode non-aktif, Sahidah Songket bangkit kembali dengan kekuatan penuh sejak tahun 1994.

Sejak saat itu hingga hari ini, roda produksi tak pernah berhenti berputar, bertransformasi dari usaha dengan satu-dua penenun hingga pernah mempekerjakan 50 orang sebelum pandemi melanda.

Komitmen pada Keaslian: Melawan Arus Tenun Palsu

Salah satu pilar utama yang menopang eksistensi Sahidah Songket adalah komitmennya yang tak tergoyahkan pada orisinalitas dan tradisi. Ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan sebuah perjuangan ideologis.

“Yang pasti bahwa home industri Sahidah Songket ini komitmen ingin memasarkan kain atau kerajinan tenun khas Sambas ini original tenun tradisional. Itu yang penting,” tegas Alfian.

Mengapa penekanan pada kata “original” begitu kuat? Alfian menjelaskan bahwa sejak memasuki era 2000-an, pasar dibanjiri oleh produk-produk yang ia sebut sebagai “tenun-tenun palsu”.

Kain-kain hasil printing atau buatan pabrik dari Tiongkok dan India yang meniru corak tenun tradisional menjadi ancaman serius. Mereka menawarkan harga yang jauh lebih murah, namun mengikis nilai seni, budaya, dan jerih payah para pengrajin.

Menghadapi tantangan ini, Sahidah Songket memilih untuk tidak berkompromi. “Menjadi satu tantangan bagi Sahidah Songket untuk komitmen menjaga warisan budaya Melayu khas Sambas tentunya dengan membuat kain-kain tenun yang tradisional. Dengan alat dan cara tradisional itu kita pertahankan,” jelasnya.

Pilihan ini memiliki konsekuensi ganda. Di satu sisi, proses produksi menjadi lebih lambat dan padat karya. Di sisi lain, setiap produk yang dihasilkan memiliki jiwa, cerita, dan nilai seni yang tak ternilai, sesuatu yang tak akan pernah bisa ditiru oleh mesin.

Di Balik Sehelai Kain: 17 Tahapan Padat Karya dan Filosofi

Pernahkah Anda membayangkan proses di balik selembar kain songket yang indah? Alfian mengungkap bahwa prosesnya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

  • Penulis: Arbi
  • Editor: Sonny

Rekomendasi Untuk Anda

  • Borneo Hotel Pontianak Jadikan UMKM Pilar Utama Pengalaman Otentik

    Borneo Hotel Pontianak Jadikan UMKM Pilar Utama Pengalaman Otentik

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (1/7/2025)Di tengah dinamika industri pariwisata yang menuntut inovasi dan otentisitas, Borneo Hotel Pontianak mengambil langkah progresif yang melampaui standar layanan perhotelan konvensional.(1/7/2025) Melalui sebuah program kemitraan strategis, hotel ini secara resmi merangkul para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, mengubah lobi hotel menjadi etalase premium bagi produk-produk unggulan Kalimantan Barat. Inisiatif […]

  • Tifara Cookies: Nastar Dan Kurma Kacang Khas Pontianak Play Button photo_camera 3

    Tifara Cookies: Nastar Dan Kurma Kacang Khas Pontianak

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner, sebuah nama dari Pontianak berhasil mencuri perhatian dengan konsistensi dan inovasinya: Tifara Cookies. Didirikan dan dinahkodai oleh Titin Sumarni, Tifara Cookies bukan sekadar bisnis kue kering biasa. Ini adalah cerita tentang semangat kekeluargaan, kegigihan dalam menghadapi tantangan, dan komitmen mutlak terhadap kualitas yang telah mengantarkannya dari […]

  • Sambut Kemerdekaan, Borneo Hotel Pontianak Hadirkan Promo Merdeka Stay & Freedom of Flavor photo_camera 4

    Sambut Kemerdekaan, Borneo Hotel Pontianak Hadirkan Promo Merdeka Stay & Freedom of Flavor

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Sambut bulan kemerdekaan, Borneo Hotel Pontianak hadirkan dua promo spesial yang memadukan kenyamanan akomodasi dan kenikmatan kuliner yang hanya tersedia selama bulan Agustus 2025. Adapun promo yang ditawarkan adalah “Merdeka Stay” menginap di kamar Deluxe seharga Rp 480.000 net per malam.   Tidak hanya nyaman, tetapi paket ini juga mencakup sarapan dan […]

  • Askrindo Kalbar Gandeng UMKM Naik Kelas: Proteksi Terjangkau dan Visi Mengangkat Gengsi Produk Lokal photo_camera 4

    Askrindo Kalbar Gandeng UMKM Naik Kelas: Proteksi Terjangkau dan Visi Mengangkat Gengsi Produk Lokal

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Di tengah dinamika ekonomi yang menantang, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerap menjadi tulang punggung yang paling tangguh (1/7/2025) Namun, ketangguhan mereka seringkali tidak diimbangi dengan jaring pengaman yang memadai. Menjawab tantangan ini, PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) Cabang Pontianak hadir dengan sebuah terobosan, bukan hanya sebagai penjamin kredit, […]

  • Tak Hanya Jaga Mangrove, Yayasan Hutan Biru (Blue Forests) Juga Bantu Perekonomian Lokal Lewat UMKM!! photo_camera 6

    Tak Hanya Jaga Mangrove, Yayasan Hutan Biru (Blue Forests) Juga Bantu Perekonomian Lokal Lewat UMKM!!

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (infoumkmkalbar) – Sepanjang garis pantai di ujung Kubu Raya, Kalimantan Barat, sebuah wilayah Kecamatan Batu Ampar, terbentang luas hutan mangrove yang kaya akan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna. Jauh dari hiruk pikuk pusat kota, di tengah komunitas-komunitas pesisir yang hidupnya bergantung pada alam, organisasi non-profit  atau “NGO” yaitu singkatan dari Non-Governmental Organization, […]

  • Herry Haryanto Mengubah Akrilik Menjadi Usaha Handycraft Play Button photo_camera 4

    Herry Haryanto Mengubah Akrilik Menjadi Usaha Handycraft

    • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
    • 0Komentar

    PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Di tengah hiruk pikuk dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sebuah nama dari Pontianak, Handycraft, berhasil mencuri perhatian. Bukan sekadar produsen kerajinan akrilik biasa, di baliknya ada tangan dingin dan filosofi bisnis yang kuat dari sang pemilik, Pak Herry Haryanto. Selama tiga hingga empat tahun terakhir, Herry tidak hanya menciptakan produk, […]

expand_less