Kisah Jatuh Bangun Pasangan Sumanji dan Suyati Mengubah Jamur Tiram Putih Menjadi Kripik Jamur Dava
- calendar_month Jumat, 11 Jul 2025

“Saya nggak pernah merasa disaingi. Rezeki, Yang Kuasa yang ngatur. Rezeki tidak akan pernah tertukar,” ucap Sumanji dengan bijak.
Prinsip mulia ini mereka wujudkan dalam tindakan nyata. Mereka telah mengajari dan membina beberapa warga sekitar, termasuk janda dan anak yatim piatu, untuk membudidayakan jamur.
Hebatnya, mereka juga menjadi penampung hasil panen dari binaan mereka, terutama saat pesanan kripik jamur membludak, seperti saat Lebaran.

“Ada mengambil sama yang ini tadi itu yang saya ajarin, binaan gitu kan. Nanti kalau misalnya udah panen, antar setor ke rumah, saya nampungnya,” tutur Suyati.
Bagi mereka, bisnis bukan hanya tentang mencari keuntungan. “Kita ingin membantu perekonomian sesama kawan, sesama tetangga,” tambahnya.
Ini adalah sebuah ekosistem pemberdayaan yang mereka bangun secara organik, menciptakan dampak positif yang jauh melampaui keuntungan materi.
Tantangan dan Visi Besar untuk Mengetuk Pintu Peluang yang Lebih Luas
Di balik kisah sukses ini, tantangan masih membentang. Kapasitas produksi menjadi kendala utama. Seluruh proses budidaya, terutama pembuatan backlog (media tanam jamur), masih dilakukan secara manual. Sumanji memimpikan sebuah mesin pencetak backlog yang dapat mempercepat produksi secara signifikan.

“Kalau pakai alat yang mesin, area yang luas seperti ini bisa saya penuhi. Punya 5.000-6.000 backlog, itu sehari bisa panen maksimal 40-50 kg,” bayangnya.
Dengan produksi yang masih terbatas, mimpi untuk merambah pasar ekspor, yang permintaannya sudah mulai datang dari Malaysia hingga Brunei, terpaksa harus ditahan.
“Kalau untuk wilayah Pontianak sih Insya Allah bisa. Cuman kalau untuk wilayah yang sampai keluar gitu, belum cukup untuk bahan bakunya,” kata Suyati.
Bantuan pemerintah, meskipun sudah ada, dirasa masih sangat minim. Proposal senilai puluhan juta yang diajukan hanya berbuah bantuan beberapa drum, jauh dari cukup untuk melakukan lompatan produksi.
Kini, harapan terbesar mereka adalah terbukanya pintu kolaborasi. Mereka membutuhkan dukungan, baik dari Pemerintah, BUMD, BUMN maupun pihak swasta, untuk permodalan dan pengadaan alat-alat produksi.
Visi mereka jelas yaitu mengembangkan budidaya jamur menjadi lebih besar, memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh, dan membawa “Kripik Jamur Dava” dikenal masyarakat luas, bahkan hingga ke panggung ekspor.
“Harapan saya, kepingin kripik jamur ini dikenal masyarakat luas. Kalau misalnya ada bisa ekspor, saya juga kepingin mau ikut ekspor,” ujar Suyati penuh harap.
Kisah Sumanji dan Suyati adalah cerminan dari potensi luar biasa yang dimiliki UMKM di Kalimantan Barat. Mereka adalah para pejuang yang mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, mengubah air mata menjadi sumber inspirasi.
Kripik Jamur Dava bukan lagi sekadar camilan, melainkan simbol dari ketekunan, kualitas, dan semangat berbagi.
Bagi para investor, mitra, atau pemangku kebijakan yang mencari peluang untuk berinvestasi pada pertumbuhan ekonomi riil yang berdampak sosial, inilah saatnya untuk melirik dan mendukung perjalanan luar biasa dari Kripik Jamur Dava. (Ar-S)





- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
