Kisah Jatuh Bangun Pasangan Sumanji dan Suyati Mengubah Jamur Tiram Putih Menjadi Kripik Jamur Dava
- calendar_month Jumat, 11 Jul 2025

KUBU RAYA – (infoumkmkalbar) – (11/7/2025) Di sebuah sudut kota yang tenang, jauh dari bisingnya suara kendaraan, sebuah kisah pengusaha UMKM yang luar biasa lahir dari air mata dan keputusasaan. Ini adalah cerita tentang Sumanji dan Suyati, pasangan suami-istri di balik merek “Kripik Jamur Dava”.
Perjalanan mereka bukan sekedar tentang menciptakan camilan renyah, melainkan sebuah epik tentang resiliensi, inovasi yang dipicu oleh keterpaksaan dan keyakinan teguh bahwa rezeki tak akan pernah salah alamat
Kisah mereka adalah bukti nyata bagaimana titik terendah dalam usaha justru bisa menjadi fondasi tertinggi untuk meraih kesuksesan.
Fakta pahit di Dunia Budidaya Jamur Putih, Ketika Panen Raya Menjadi Bencana
Semua bermula sekitar lima tahun lalu. Bapak Sumanji, yang waktu itu berprofesi sebagai supir selama puluhan tahun, banting stir ke dalam dunia budi daya jamur tiram putih, dengan bekal ilmu yang ia timba langsung dari seorang kawan di Pulau Jawa, memutuskan untuk memulai budi daya jamur tiram putih.
Awalnya, harapan membentang luas. Jamur-jamur tiram putih yang segar dan berkualitas tumbuh subur di kumbung (rumah jamur) sederhana mereka.

Namun, pasar berkata lain. Dunia pertanian bahan mentah, dengan segala ketidakpastiannya, memberikan pelajaran pertama yang paling pahit.
“Kami rintis dari nol,” tutur Sumanji, mengenang masa-masa awal yang penuh perjuangan. Setiap pagi buta, ia membawa hasil panen jamur tiram putih segarnya ke pasar, berharap pundi-pundi rupiah terkumpul.
“Cuman harganya kan nggak bisa stabil. Kadang pas kita panen, panen raya, harga langsung jatuh.”
“Panen raya”, sebuah istilah yang seharusnya membawa kebahagiaan bagi petani, justru menjadi momok yang menakutkan.
Ketika semua petani jamur memanen dalam waktu bersamaan, pasokan melimpah ruah, membuat daya tawar mereka anjlok drastis.
Puncaknya adalah sebuah momen yang terpatri kuat dalam ingatan mereka. Harga jamur yang idealnya berada di angka Rp 30.000 per kilogram, tiba-tiba ditawar dengan harga yang tidak sesuai harapan mereka.
Sebuah angka yang bahkan tak sanggup menutupi biaya produksi dan tenaga yang telah mereka curahkan. “Terus sama ibu ini,” kata Sumanji sambil melirik istrinya, Suyati. “Nangis,
Di tengah tumpukan jamur segar yang tak laku dan harga yang mencekik, keputusasaan hampir saja menang.
Jamur yang tak terserap pasar, alih-alih dibuang, mereka bagikan kepada para tetangga.
Sebuah paradoks yang indah sekaligus menyakitkan. Namun, dari titik terendah inilah, sebuah ide cemerlang mulai bersemi.
Transformasi Dari Jamur Tiram Putih Mentah ke Kripik Bernilai Tambah
Ibu Suyati, sang motor penggerak di balik dapur produksi, tak rela melihat kerja keras mereka sia-sia. Ia melihat tumpukan jamur itu bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai potensi yang belum tergarap.
“Awal mulanya kita bingung pemasaran untuk mentahnya,” ungkap Suyati, yang kini menjadi owner dari Kripik Jamur Dava.
“Akhirnya saya punya ide gimana biar jamur itu bisa awet terus, tahan sampai satu bulan, dua bulan. Itulah awal mulanya mau dibuat kripik jamur.”

Namun keputusan itu adalah sebuah revolusi. Mereka tidak lagi bergantung pada belas kasihan pasar bahan mentah. Mereka memutuskan untuk menciptakan produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya tahan lebih lama.





- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
