Merajut Asa dari Kapuas Hulu
- calendar_month Senin, 14 Jul 2025

Namun, kekayaan sesungguhnya terletak pada motif-motifnya yang tak terhitung jumlahnya, terinspirasi dari alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Iban.
“Untuk motifnya itu bervariasi, tergantung dari motif juga. Untuk namanya kurang hafal juga sih, karena terlalu banyak motif,” akunya jujur.
Meskipun begitu, ia menyebutkan beberapa motif yang menjadi primadona dan paling diminati pasar. “Yang paling sering dipakai itu adalah motif gunting dan kepiting. Itu yang paling laris.”
Selain itu, ada pula motif lampu dan kipas, yang masing-masing menyimpan filosofi dan estetika tersendiri. Kemampuannya dalam mengangkat objek-objek keseharian menjadi ragam hias yang artistik menunjuk bahwa kepekaan rasa dan kreativitas yang tinggi.
Proses di Balik Tenun Sidan, Kesabaran Adalah Kunci
Ketika ditanya mengenai proses pembuatan selembar kain, Yuliana menggarisbawahi satu tantangan utama yang membutuhkan lebih dari sekedar keterampilan teknis.
“Pembuatan pertama yang agak susah itu waktu membuat motifnya, karena motifnya itu suka ribet,” tuturnya. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi seorang penenun.
“Jadi sebelum dibuat motifnya, kita harus secara detail itu pelan-pelan, harus punya kesabaran besar.”
Kesabaran inilah yang menjadi benang emas tak kasat mata dalam setiap karyanya. Proses yang meditatif dan menuntut konsentrasi penuh ini memastikan setiap detail motif tampil sempurna.
Lebih mengagumkan lagi, Yuliana bahkan membuat sendiri perangkat tenunnya. “Buat sendiri,” jawabnya singkat namun tegas.
Kemandirian ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga menunjukkan pemahaman holistik terhadap medium seninya, dari alat hingga hasil akhir.
Respon pasar terhadap buah dari kesabarannya ini pun sangat positif. “Cukup baik,” katanya. Ketika didesak untuk menjelaskan lebih jauh, ia menambahkan.
“Dari kerapiannya, motifnya, warnanya.” Kualitas inilah yang menjadi nilai jual utama Nuitha Tenun Sidan, membuktikan bahwa kerja keras dan dedikasi pada detail akan selalu menemukan apresiasinya.
Visi Besar dari Ruang Tenun yang Sederhana
Di balik sosoknya yang bersahaja, Yuliana Sherly menyimpan sebuah visi yang melampaui batas-batas desanya. Ia bermimpi untuk membawa Tenun Sidan, yang dahulu hanya dikenal di pelosok-pelosok (daerahnya), ke panggung yang lebih luas.
“Mungkin biar lebih dikenal luas ya untuk masyarakatnya. Karena kan untuk Tenun ini dulu kan tidak terlalu dikenal,” ujarnya. “Tapi sekarang, puji Tuhan lebih dikenal ya.”
Ambisi ini tidak berhenti di tingkat nasional. Dengan tatapan mata yang penuh harapan, ia menyuarakan impian terbesarnya.
“Harapan saya semoga Tenun Sidan tetap menjadi yang terbaik, dikenal di masyarakat dan, kalau bisa, di luar Indonesia juga. Kayaknya lebih, kalau bisa lebih dikenal ke dunia juga, di daerah Eropa juga.”
Untuk mencapai visi tersebut, Yuliana sadar ia tidak bisa selamanya berjalan sendiri. Ia terbuka pada berbagai peluang kerjasama.
Ketika ditanya mengenai rencana ekspansi atau ekspor, jawabannya lugas dan penuh optimis: “Kalau ada peluang, kenapa tidak?”




- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
