Tifara Cookies: Nastar Dan Kurma Kacang Khas Pontianak
- calendar_month Minggu, 10 Agt 2025

“Ternyata responsnya luar biasa, langsung meledak dan menggeser popularitas produk lama. Sampai sekarang, kue pati kentang menjadi andalan kami.”
Langkah ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Titin, inovasi bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk tetap relevan dan memenangkan hati pelanggan.
Tantangan Pemasaran dan Prinsip Harga
Perjalanan Tifara tidak selamanya mulus. Titin secara terbuka mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya sejak awal hingga kini adalah pemasaran.
“Memasarkan kue kering itu tidak mudah, beda dengan snack yang bisa dibeli anak-anak dengan uang ribuan. Produk kami harganya mendekati ratusan ribu,” jelasnya.
“Jadi, kami harus benar-benar mencari pasar yang tepat. Kalau tidak, produk sebagus apa pun tidak akan masuk.”
Di tengah tantangan tersebut, Titin memegang teguh sebuah prinsip: kualitas rasa tidak boleh dikompromikan. Ketika harga bahan baku melonjak, ia pantang mengurangi takaran atau mengganti bahan.

“Kualitas rasa dari 2013 sampai sekarang tidak pernah kami ubah. Kalau bahan baku naik drastis, kami tidak langsung menaikkan harga saat itu juga. Kami tahan, meski laba berkurang.”
“Kenaikan harga baru kami pertimbangkan untuk tahun berikutnya, dan itu pun hanya sedikit,” tegasnya. Prinsip inilah yang membangun loyalitas pelanggan Tifara selama bertahun-tahun.
Legalitas: Suatu Kepercayaan dan Pertumbuhan
Titik balik penting bagi Tifara Cookies terjadi pada periode 2019-2020. Dengan diperolehnya legalitas usaha, sertifikat halal, hingga hak paten, kepercayaan konsumen meroket.
“Legalitas sangat membantu pemasaran. Orang jadi semakin yakin bahwa produk kami ini tidak main-main, sudah teruji dan terjamin,” kata Titin.
“Dulu kami harus selalu meyakinkan orang dengan tester. Sekarang, dengan adanya legalitas, kepercayaan itu datang lebih mudah, meski tester tetap kami sediakan.”
Dari sisi produksi, Tifara mengandalkan kekuatan tim yang mayoritas adalah keluarga. Titin belajar dari pengalaman bahwa tim yang lebih ramping namun fokus (6-7 orang) justru bisa menghasilkan lebih banyak (lebih dari 400 kg) dibandingkan tim besar (12 orang) yang kurang efisien.
Harapan dan Masa Depan Tifara Cookies
Dengan fondasi yang semakin kokoh, Titin Sumarni kini menatap masa depan dengan penuh optimisme. Mimpinya tidak lagi sebatas dapur rumahan.
“Harapan saya ke depan adalah memiliki galeri dan tempat produksi sendiri yang proper. Saya ingin menciptakan lapangan kerja yang tetap untuk lebih banyak orang, dan tentunya, memperluas jangkauan pasar Tifara,” tutupnya dengan penuh harapan.
Kisah Tifara Cookies adalah cerminan nyata bahwa bisnis UMKM yang lahir dari hati, dijalankan dengan integritas, dan terus beradaptasi dengan inovasi, memiliki kekuatan untuk tumbuh besar dan berkelanjutan.(Ar-S)
Instagram: @tifaracookies01



- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
