Sahidah Songket Kisah 3 Generasi Pelestari Tenun Sambas
- calendar_month Jumat, 1 Agt 2025

PONTIANAK – (infoumkmkalbar) Di sebuah sudut negeri yang kaya akan budaya, di tengah gempuran modernisasi dan produk pabrikan yang seragam, sebuah home industri berdiri teguh.
Napasnya adalah tradisi, denyutnya adalah dedikasi. Namanya Sahidah Songket, sebuah jenama yang tidak hanya menjual selembar kain, tetapi juga merajut kisah, melestarikan warisan, dan memperjuangkan keaslian tenun Sambas.
Di balik nama merek yang sarat makna itu, berdiri seorang pria bernama Alfian yang suka disapa dengan sebutan Alfian Songket, ia bukan hanya sekedar seorang yang mengelola suatu bisnis.

Dengan sorot mata yang menyiratkan gairah dan kecintaan mendalam, ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang “pelestari”. Sebuah peran yang ia emban dengan penuh tanggung jawab sebagai generasi ketiga dalam keluarganya.
“Saya di home industri Sahidah Songket ini sebagai pengelola usahanya, tapi ya lebih kepada kita pelestari,” ujar Alfian dengan nada mantap.
“Pelestari tenun songket tradisional, juga tenun ikat tradisional khas Sambas. Intinya bahwa kita komit untuk memproduksi, membuat, dan melestarikan tenun-tenun tradisional.”
Komitmen inilah yang menjadi benang merah dari seluruh perjalanan Sahidah Songket, sebuah epik yang membentang lebih dari setengah abad, melintasi tiga generasi, dan menghadapi berbagai tantangan zaman.

Akar Sejarah: Dari Nenek Turun ke Ibu, Kini di Tangan Sang Cucu
Kisah Sahidah Songket tak bisa dilepaskan dari sosok inspiratif di balik namanya: Ibu Sahidah, ibunda dari Alfian. Nama “Sahidah” diabadikan bukan tanpa alasan. Ia adalah matriark, sumber mata air dari ilmu dan semangat menenun yang kini mengalir deras.
“Sahidah itu menjadi nama usahanya saya ambil dari nama ibu saya,” ungkap Alfian. Perjalanan Ibu Sahidah dengan tenun dimulai pada usia yang sangat belia, 14 tahun, di kampung halamannya di Sambas.
Ilmu itu ia dapatkan langsung dari ibunya, yang berarti nenek dari Alfian. Ini menjadikan Alfian pewaris tradisi generasi ketiga, sebuah amanah yang tidak ringan.
“Ibu saya itu mempelajari usaha tenun ini dari beliau berumur 14 tahun. Jadi saya ini merupakan generasi ketiga dalam keluarga saya yang melestarikan tenun Sambas,” tuturnya dengan bangga.
Kini, di usianya yang menginjak 80-an tahun, jemari Ibu Sahidah mungkin tidak lagi lincah di atas alat tenun. Namun, semangatnya tak pernah padam.

Ia beralih peran menjadi seorang maestro di balik layar, seorang kurator kualitas dan desainer corak yang memastikan setiap helai kain yang lahir dari rahim Sahidah Songket memiliki DNA keaslian dan keindahan yang terjaga.
Perjalanan bisnis itu sendiri dimulai secara resmi pada tahun 1969. Dengan visi yang melampaui batas-batas kampungnya, Ibu Sahidah membawa tenun Sambas keluar dari zona nyamannya. Ia hijrah ke Singkawang pada era 70-an, sebuah langkah berani untuk mencari pangsa pasar yang lebih luas.
Setelah kurang lebih lima tahun membangun reputasi di sana, ia kembali ke Sambas pada tahun 80-an, meneruskan usaha dengan nama yang sama.
Meski sempat mengalami pasang surut dan periode non-aktif, Sahidah Songket bangkit kembali dengan kekuatan penuh sejak tahun 1994.
Sejak saat itu hingga hari ini, roda produksi tak pernah berhenti berputar, bertransformasi dari usaha dengan satu-dua penenun hingga pernah mempekerjakan 50 orang sebelum pandemi melanda.

Komitmen pada Keaslian: Melawan Arus Tenun Palsu
Salah satu pilar utama yang menopang eksistensi Sahidah Songket adalah komitmennya yang tak tergoyahkan pada orisinalitas dan tradisi. Ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan sebuah perjuangan ideologis.
“Yang pasti bahwa home industri Sahidah Songket ini komitmen ingin memasarkan kain atau kerajinan tenun khas Sambas ini original tenun tradisional. Itu yang penting,” tegas Alfian.
Mengapa penekanan pada kata “original” begitu kuat? Alfian menjelaskan bahwa sejak memasuki era 2000-an, pasar dibanjiri oleh produk-produk yang ia sebut sebagai “tenun-tenun palsu”.
Kain-kain hasil printing atau buatan pabrik dari Tiongkok dan India yang meniru corak tenun tradisional menjadi ancaman serius. Mereka menawarkan harga yang jauh lebih murah, namun mengikis nilai seni, budaya, dan jerih payah para pengrajin.
Menghadapi tantangan ini, Sahidah Songket memilih untuk tidak berkompromi. “Menjadi satu tantangan bagi Sahidah Songket untuk komitmen menjaga warisan budaya Melayu khas Sambas tentunya dengan membuat kain-kain tenun yang tradisional. Dengan alat dan cara tradisional itu kita pertahankan,” jelasnya.
Pilihan ini memiliki konsekuensi ganda. Di satu sisi, proses produksi menjadi lebih lambat dan padat karya. Di sisi lain, setiap produk yang dihasilkan memiliki jiwa, cerita, dan nilai seni yang tak ternilai, sesuatu yang tak akan pernah bisa ditiru oleh mesin.
Di Balik Sehelai Kain: 17 Tahapan Padat Karya dan Filosofi
Pernahkah Anda membayangkan proses di balik selembar kain songket yang indah? Alfian mengungkap bahwa prosesnya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.





- Penulis: Arbi
- Editor: Sonny
